Ateng Tandjaya : Pemadam di Kota Pontianak Tumbuh Pesat

Menurutnya hal itu terlihat dari terbentuknya pemadam - pemadam yang ada hingga ke tingkat kampung (Desa/Kelurahan).

Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ M WAWAN GUNAWAN
Ateng Tandjaya Forum Komunikasi Kebakaran Alfa Tanggo 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak M Wawan Gunawan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID.PONTIANAK,- Penggagas Forum komunikasi kebakaran Kota Pontianak / Alfa Tanggo Ateng Tandjaya mengatakan keberadaan pemadam kebakaran yang ada di Kota Pontianak meningkat pesat, Senin (10/06/2018).

Menurutnya hal itu terlihat dari terbentuknya pemadam - pemadam yang ada hingga ke tingkat kampung (Desa/Kelurahan).

Baca: Pemadam Kebakaran Alfa Tanggo Bagikan 800 Paket Minuman

Baca: Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak Siaga SAR Khusus Lebaran

"Sekarang di setiap kampung sudah ada kelompok pemadam, jadi di tingkat lokal mereka sudah bisa menjadi yang terdepan sebelum datangnya pemadam lainnya," Ujarnya.

Ateng menceritakan, sebelumnya pemadam kebakaran swasta yang pertama kali berdiri di kota Pontianak BPAS yang ada di Siantan. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi pemadam kebakaran swasta berkembang pesat hingga ke kampung-kampung.

Baca: Takbiran Tahun Ini, Wakapolri Imbauan Agar Dilaksanakan di Masjid, Ini Tujuannya

Baca: Diskusi Dengan Paslon Wali Kota, MABBT dan Kerabat Ajak Masyarakat Tak Golput

"Berdirinya pemadam kebakaran swasta di Pontianak pertama kali adalah di daerah Siantan dengan nama BPAS di tahun 1949, dan sekarang sudah berkembang pesat di kota madya dan sekitarnya seperti Kakap, Punggur, Ambawang dan Supadio besar dan kecil," jelasnya.

Ateng menambahkan perkembangan itu bisa terjadi karena solidaritas sosial di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat sangat tinggi, padahal mengabdikan diri di pemadam kebakaran tidak di gajih.

Ateng menceritakan jikalau selama 45 tahun pengabdiannya di pemadam kebakaran, dirinya sudah merasakan banyak sekali pahit dan getirnya menjadi seorang pemadam.

"Saya sendiri mengabdi di pemadam kebakaran sudah kurang lebih 45 tahun. Jadi saya tahu betul pahit dan getirnya di pemadam, karena kalau tertolong jarang Terimakasih dan tidak tertolong kita di Hujat," Ungkapnya.

Namun karena jiwa solidaritas sudah terbangun Ateng mengatakan itu bukan menjadi soal untuk berhenti mengabdikan diri sebagai seorang pemadam.

Bahkan Ateng mengaku jikalau apa yang mereka lakukan sudah hampir sama dengan pengaplikasian empat pilar kebangsaan, jadi bisa menjadi contoh kehidupan dan keberagaman di Indonesia.

"Jadi empat pilar kebangsaan sudah melekat di dada pemadam kebakaran. Karena disini beda suku, etnis dan agama tapi bisa bersatu padu. Jadi ini bisa menjadi percontohan di Indonesia dan dunia," tuturnya. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved