Ali Nasrun: Penting Jaga Kepercayaan Masyarakat Terhadap Perbankan
Ini bisa berdampak hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.
Penulis: Ishak | Editor: Madrosid
Laporan Wartawan Tribun Pontianak Ishak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Ekonomi, Akademisi Untan, Ali Nasrun mengatakan berbagai permasalahan yang mendera dunia perbankan nasional akhir-akhir ini, seperti skimming dan sebagainya, memang jadi perkara tragis di dunia perbankan sekarang.
Di mana penggunaan elektronik di dunia perbankan semakin maju, lalu kemudian terjadilah hal-hal semacam ini.
"Ini yang saya kira harus jadi catatan penting bagi bank bersangkutan. Selain itu, juga bagi pemerintah yang membuat regulasi dan pengawasan," ujarnya, Selasa (27/3/2018).
Karena jika permasalahan semacam ini terus berulang terjadinya, sementara secara teknologi bisa dihindari, bukan tak mungkin menandakan bahwa perbankan kita tidak update teknologi.
Ini bisa berdampak hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Di mana saat ini pemerintah justru berupaya sangat keras membentuk bank minded pada semua lapisan masyarakat.
Baca: Ratusan Nasabah Masih Padati Kantor Cabang BRI Barito Urusi Pemblokiran Rekening
Kasus semacam ini, jika tak ditangani dengan baik, saya kira bisa jadi Boomerang, titik balik kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Jadi jelas harus segera diatasi, sehingga tidak terulang.
Pemerintah maupun perbankan yang bersangkutan sendiri, perlu menyampaikan kepada masyarakat hal apa saja yang menjadi penyebab munculnya masalah ini.
Selain itu, juga soal apa teknologi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah ini, sehingga tidak terulang kembali di masa mendatang.
Jika tidak, bisa saja akan menimbulkan sejumlah efek negatif terhadap dunia perbankan.
Sekali lagi, seperti hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan.
Jika trust masyarakat hilang, maka dana masyarakat akan sulit dihimpun oleh perbankan.
Akibatnya, akan menjadi idle money yang tidak bisa dikembangkan untuk impact yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Hal kedua yang juga tak kalah penting, jika masyarakat tetap menggunakan uang tunai dan enggan gunakan di fasilitas keuangan digital, akan jadi catatan tersendiri untuk perekonomian.
Sebab, ada sejumlah batasan-batasan dalam perekonomian dalam penggunaan uang tunai, sementara di berbagai belahan dunia sudah semakin menuju ke digital money.
Selain itu, yang paling dikhawatirkan dari hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan adalah munculnya rush di tengah masyarakat.
Baca: Tahfiz Program Unggulan, Al-Fityan School Kubu Raya Bantu Siswa Hafal Seluruh Isi Al Quran
Masyarakat ramai-ramai menarik dananya dari perbankan, jika memang ada pembiaran dan diabaikan terhadap berbagai permasalahan semacam ini.
Karena itu, pihak perbankan dan pemerintah harus menyampaikan kepada masyarakat terkait hal ini. Termasuk juga rencana penanggulangannya sehingga tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.
Perbankan harus proaktif menjelaskan kepada masyarakat, khususnya kepada nasabah. Bahwa ada cara konkrit yang hendak ditempuh untuk menyelesaikan berbagai permasalahan ini.
Jika tidak, ini bisa saja akan berikan impact negatif bagi perbankan sendiri.
Ditinggalkan oleh nasabah karena munculnya kekhwatiran berlebihan terhadap dana yang dipercayakan kepada perbankan.
Baca: Video Suasana Penyuluhan Sadar Wisata
Bahkan, imbasnya tidak hanya akan dirasakan oleh perbankan tersebut saja secara persaingan bisnis. Tapi juga bisa saja berpotensi mengacaukan stabilitas perekonomian dan dunia moneter nasional akibat hilangnya kepercayaan nasabah terhadap perbankan.
Perbankan, harus segera sampaikan kepada masyarakat terkait permasalahan ini, dan alternatif solusi yang akan diambil.
Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait selalu regulator, harus berlari lebih cepat secara teknologi, sehingga bisa meminimalisir resiko terhadap kejahatan teknologi yang menjadi ancaman bagi perbankan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/pengamat-m-ali-nasrun_20180209_213120.jpg)