Waspadai Gerakan Kelompok Teroris

Polisi menyita beberapa unit komputer dari rumahnya. Heri akhirnya menjalani hukuman dan baru dibebaskan pada 2015 lalu.

Waspadai Gerakan Kelompok Teroris
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
ILUSTRASI: Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antitetor melakukan proses rekonstruksi dugaan kasus terorisme 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Tim dari Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Antiteror Markas Besar Polri melakukan serangkaian penangkapan terhadap beberapa orang terduga teroris di berbagai daerah.

Terbaru, seorang terduga teroris di Solo, Jawa Tengah, ditangkap Minggu siang (4/2). Beberapa barang disita dari kediaman Heri, yang masih menumpang di rumah mertuanya, antara lain beberapa catatan racikan bahan kimia.

Berdasarkan catatan Tempo, Heri pernah ditangkap Densus 88 sekitar Mei 2009. Pria tersebut dikenal mahir dalam urusan komputer. Polisi menduga Heri menyembunyikan dokumen yang terkait dengan terorisme.

Polisi menyita beberapa unit komputer dari rumahnya. Heri akhirnya menjalani hukuman dan baru dibebaskan pada 2015 lalu.

Sebelumnya, Densus 88 menangkap seorang pria terduga teroris di Sampolawa, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis malam (1/2).

Baca: Pesan Politik Sutarmidji di Gelaran MTQ XXVII Tugu Khatulistiwa Pontianak

Terduga teroris bernama Agung alias Faruq itu menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Mohammad Iqbal, melalui keterangan tertulis, masuk kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sulawesi.

Pada hari yang sama pukul 09.00 menangkap tiga terduga teroris di Jalan Secang Km 03, Dusun Bengkal, Kecamatan Kranggan,Temanggung, Jawa Tengah.

Keesokan harinya, kepolisian memulangkan dua di antaranya, yakni Lukman alias Toro dan Zaenal, karena tidak menemukan cukup bukti keterlibatannya.

Sedangkan Waluyo alias Ageng tetap ditahan karena terkait dengan jaringan Filipina dan Thamrin, sebagai penyedia senjatanya.

Selain di Temanggung, tim Densus 88, juga menangkap dua terduga teroris Kamis (1/2) pukul 11.00 WIB di Kelurahan Pasirkidul, Kecamatan Purwokerto Barat, Jawa Tengah. Kedua tersangka masing-masing bernama Sidik (33) dan SL dibekuk.

Terduga teroris Sidik yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang ini diduga berperan sebagai fasilitator dengan menyembunyikan salah satu terduga teroris dan urut mendanai sejumlah gerakan radikal yang melibatkan beberapa nama terduga teroris.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius menyatakan penangkapan tiga terduga teroris itu, sudah dibidik sejak lama.

Dari keterangan warga di lokasi penangkapan dan tempat tinggal mereka, tidak ada hal-hal yang mencurigakan terhadap tiga orang yang tertuga teroris tersebut. Bahkan di antara mereka, ada pemuda putus sekolah yang saat itu duduk di bangku sekolah dasar.

Inilah fakta, sehingga membuat miris sebagian warga. Begitu mudahnya mereka ikut-ikutan kelompok yang cenderung pada perbuatan teror.

Apalagi, jika dikaitkan pemahaman mereka terhadap kelompok yang mengarah kepada terorisme.

Seperti Sidik, sebelum ditangkap beberapa kali menggelar pengajian di rumahnya, tapi pesertanya orang luar dan yang dibahas terkait materi tentang paham radikal.

Teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan.

Sedangkan teroris, orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik; gerombolan (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kalau dikaitkan dengan pemaknaan jihad, tentu sangat jauh. Sebab, jihad dalam KBBI disebutkan, usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan; usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa dan raga; dan seterusnya.

Dengan demikian, bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang tidak lain adalah nilai-nilai kebaikan. Sungguh sangat disayangkan, makna tersebut dinodai oleh sekelompok orang yang menamakan gerakan jihad.

Akibat dangkal pemahaman demikian, menjadi ancaman dalam kehidupan orang banyak. Pengalaman keagamaan belum sepenuhnya bisa dilaksanakan dan benar.

Buktinya, masih banyak perilaku yang bertentangan dengan akhlak, etika, moral dan hukum yang berlaku. Sehingga, perlu penanaman kembali nilai-nilai bagi terwujudnya masyarakat dan anak bangsa yang baik.

Yang jelas, teroris cenderung melakukan perusakan terhadap fasilitas umum, membinasakan warga sipil. Itu bukan jihad, sebab melakukan serangkaian aksi teror. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved