Ekonom Indef Bhima Yudhistira, Kalbar Perlu Produk Turunan Sawit

Puncaknya, pada 2014, ekonomi China turun ke angka 6 persen sehingga perlu pemulihan ekonomi lebih baik melalui konsumsi domestik.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Dhita Mutiasari

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan Kalimantan Barat mempunyai peluang besar untuk meningkatkan pendapatan daerah dengan mengembangkan produk turunan atau hilirisasi dari minyak kelapa sawit.

Hal tersebut ia katakan karena China membuka kran impor secara besar-besaran.

Baca: Asah Talenta Bernyanyi, Mulai dari Gereja Hingga ke Luar Negeri

"Buat produk turunan lalu ekspor langsung ke China, negeri tirai bambu itu, saat ini sedang menggeser kebijakan ekonominya dari ekspor ke konsumsi domestik. Jadi, Kalbar mulailah sekarang investasi ke produk hilir seperti [buat] kosmetik dan lainnya bukan cuma minyak goreng dan nanti ekspor ke China," kata Bhima baru-baru ini.

Baca: Pemkab Berharap Pada 2018 Swasembada Jagung di Ketapang

China yang membuat kebijakan konsumsi domestik secara besar-besaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut kata Bhima karena alasan khusus.

Apalagi setelah sempat perekonomian yang anjlok akibat tergantung dengan ekspor batubara yang nilai jual di tingkat global mengalami penurunan harga.

Puncaknya, pada 2014, ekonomi China turun ke angka 6 persen sehingga perlu pemulihan ekonomi lebih baik melalui konsumsi domestik.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), China adalah negara tujuan utama ekspor dari Kalbar sebesar 146,78% atau senilai US$384,17 juta selama Januari-November 2017 lebih tinggi dari periode yang sama pada 2016 yang mencapai US$155,67 juta.

Urutan berikutnya adalah Jepang yang nilai ekspor mencapai US$112,10 juta atau turun sebesar 26,41% dari periode Januari-November 2016 sebesar US$116,25 juta. Adapun golongan ekspor barang dari Kalbar yakni bahan kimia anorganik, bijih, kerak dan abu logam, kayu, barang dari kayu, lemak dan minyak hewan atau nabati, karet dan barang dari karet, ampas atau sisa industri makanan, buah-buahan, tembakau, ikan dan udang, biji-bijian berminyak.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved