Vietnam Berhasil Turunkan Stunting 4 Persen Setelah Belajar dari Indonesia

Ingat masalah gizi itu bukan cuma masalah dana, tapi kekuatan leadership dan komitmen menerapkan program yang sudah ada

Penulis: Nina Soraya | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Nina Soraya
Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalbar, Mulyadi saat memberikan pemaparan kegiatan diskusi terfokus yang digagas  IMA World Health bekerjasama dengan Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) dengan tema ASI Ekslusif Cegah Stunting, Selasa (16/1). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK  - Berbagai upaya dilkukan pemerintah daerah, tak terkecuali Kalbar dalam menekan laju anak dengan masalah stunting, wasting dan gemuk. Data Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia termasuk satu dari dari 117 negara dengan tiga masalah gizi tinggi pada balita, yaitu stunting, wasting dan gemuk. 

Pusat pun menginstruksikan dearah untuk segera merealisasikan berbagai program untuk meningkatkan gizi kepada balita di 1.000 hari kehidupan. Kalbar dengan geografis yang lain juga memiliki persoalan gizi ang serius. Ini telihat dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, 9 di antaranya merupakan wilayah dengan sebaran persoaalan gizi, terutama stunting

Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalbar, Mulyadi, menyebut fakta menarik soal stunting yakni negara Vietnam yang mampu menurunkan angka stunting hingga 4% persen per tahun.

(Baca: Bupati Hildi Hamid Sanksi Tegas PNS yang Urinenya Positif Mengandung Zat Psikotropika )

"Cara yang dilakukan Vietnam didapatkan dari belajar dengan Indonesia. Kok bisa? jadi masalah di kita itu adalah implementasi. Karena semua program kita punya, tapi tataran implementasi yang masih kurang," sampainya saat menjadi pembicara di diskusi terfokus yang digagas  IMA World Health bekerjasama dengan Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) dengan tema ASI Ekslusif Cegah Stunting, Selasa (16/1).

Upaya-upaya yang dilakukan di Vietnam seperti pemanfaatan perkarangan. Nah, lanjut Mulyadi, Indonesia juga punya program yang sama. Dulu namanya program taman gizi dengan memberdayakan perkarangan rumah. 

"Negara itu berhasil menerapkannya setelah belajar dari kita (Indonesia).   Jadi, kalau Indonesia mau berhasil juga, ya kuncinya di implementasi. Ingat masalah gizi itu bukan cuma masalah dana, tapi kekuatan leadership dan komitmen menerapkan program yang sudah ada," paparnya. 

Mulyadi mengatakan  suatu bangsa yang hebat bisa dilihat dari kehidupan generasinya. Jika generasinya kuat dan tanggah, maka bisa dipastikan kehidupan bangsa tersebut di masa depannya. Indonesia, tertama Kalbar bisa menciptakan generasi tangguh dengan memaskimalkan potensi masyarakat dan membuka wawasan kesadaran akan pentingnya 1.000 hari kehidupan. 

"Ini tugas kita besama, tidak bisa satu lembaga saja, pemerintah, non pemerintah, NGO maupun media hingga masyarakat menjadi kunci penentu keberhasilan gizi ini. Penguatan fisik dan mental yang bermula dari pemenuhan gizi dalam keluarga, untuk itu penguatan-penguatan keluarga ini yang pertma kita bentuk karena semua bermula dari lingkungan keluarga, ibu, ayah dan ank-anak," ucapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved