Minat Masyarakat Sintang Memakai Manik Berkurang, Ini Cara Siti Memperkenalkannya Kembali
Manik sebagai bagian dari kehidupan nenek moyang dimasa lalu tidak punah begitu saja sebab manik memilki nilai adat, budaya dan tradisi.
Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Pariwisata Kabupten Sintang, Siti Musrikah berharap dengan dibukanya Pameran Manik Borneo 2017 akan mampu mendorong masyarakat Sintang untuk menghidupkan lagi manik sebagai bagian dari keseharian.
“Saya amati juga belakangan ini masyarakat Sintang yang dulunya lekat dengan manik sudah mulai berkurang kreasi maniknya. Sekarang sudah dimulai lagi tapi masih dengan motif yang sederhana seperti kalung, anting, gelang dan belum mampu merunci manik yang lebih komplek atau lebih banyak motifnya,” terang Siti, Rabu (15/11/2017) pagi.
Menurutnya manik sebagai bagian dari kehidupan nenek moyang dimasa lalu tidak punah begitu saja sebab manik memilki nilai adat, budaya dan tradisi.
(Baca: Begini Cara Malaysia Mempromosikan Kerajinan Maniknya )
Manik apabila kembali dikembangkan maka menurut Siti tidak menutup kemungkinan juga akan sama tenarnya dengan kain tenun ikat Sintang yang saat ini sudah mendunia.
Ada beragam cara untuk tetap melestarikan manik, meski tak bisa lagi harus menyamai dengan manik yang dibuat pada masa lalu tapi setidaknya sebagian masih bisa didapatkan bahannya bakunya.
(Baca: Makna Penting yang Terkandung di Balik Manik-manik )
"Kalau bahan manik sebenarnya banyak tersedia bahkan di pasaran juga banyak, tapi tentu bukan bahan dari batu seperti jaman dulu. Sebab manik itu ada unsur yang terbuat dari kayu, dari batu, dari tulang, baru kemudian generasi yang sekarang dari kaca," katanya.
Kalau untuk mengikuti seperti yang jaman dulu itu, menurutnya sudah sulit bahan-bahannya sebab dulu bahannya tulang atau taring maupun gigi binatang hutan yang didapat dari berburu.
Siti juga mengatakan ada beragam cara untuk mengenalkan sesuatu yang brsifat lokal kepada masyarakat luar. Terlebih jika itu berupa barang yang biasa dipakai sehari-hari.
“Kalau saya memang biasa memakai pakaian atau gaun yang dikombinasikan dari tenun ikat dan manik sehingga biasanya orang akan merasa penasaran dan tertarik. Saya pikir itu salah satu metode untuk mengenalkan kepada orang lain,” pungkasnya.