Perjuangan Kaum Pedagang Dalam Perang Banjar

Perang Banjar bukan semata perang mempertahankan kemerdekaan, tapi juga perang untuk mempertahankan agama.

Penulis: Muzammilul Abrori | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjadi satu dari peneliti yang menjadi peserta seminar, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalbar, Hendraswati menyampaikan penelitian yang dilakukannya bersama Zulfa Jamalie tentang Pedagang dan Gerakan Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda di Masa Perang Banjar (1859-1905).

Dalam penelitian tersebut dia menyampaikan perang Banjar bukan semata perang mempertahankan kemerdekaan, tapi juga perang untuk mempertahankan agama.

"Kolonialisme tidak hanya menggerus nilai-nilai budaya ysmg tumbuh dalam masyarakat, tapi juga menggerus kepercayaan masyarakat," katanya.

(Baca: Pria Tua Ini Kumandangkan Azan di Atas Reruntuhan Masjid Yang Hancur Akibat Perang )

Perang Banjar dikenal juga dengan De Bandjermasinche Krijg, sebuah peristiwa penting dalam sejarah pergerakan masyarakat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (sepanjang aliran Sungai Kapuas dan Sungai Barito) melawan kolonlialisme.

Penyebutan Perang Banjar sendiri tidak merujuk pada satu wilayah atau kelompok masyarakat yang kini disebut masyarakat Banjar. Karena perang ini dilakukan oleh orang-orang Banjar dan Dayak seperti Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Murung, Bakumpi, serta beberapa suku Dayak lainnya yang hidup di pedalaman.

Dia menyampaikan Perang Banjar dianggap sebagai perang yang berat karena mencakup wilayah yang luas, melalui medan yang sulit sehingga memakan banyak korban jiwa dan biaya. Dia mengungkapkan, lebih dari 3.000 tentara Belanda tewas.

Perang banjar merupakan titik kulminasi dari rentetan perlawanan terhadap Belanda. Pedagang Banjar melakukan perlawanan dengan menolak meminta perizinan dari Belanda, mereka juga melakukan penyelundupan barang dagangan, menolak membayar pajak barang dagang, dan menghancurkan perkebunan lada untuk mengurangi pasokan rempah Belanda. Klimaksnya adalah terjadinya perang Banjar yang melibatkan seluruh golongan masyarakat.

"Perdagangan merupakan alasan mengapa perlawanan pedagang terjadi, perdagangan pula yang menyebabkan kedatangan bangsa Belanda ke Banjarmasin berubah menjadi kolonialisme," jelasnya.

Perdagangan yang menjadi urat nadi kehidupan Banjarmasin berubah menjadi arena perjuangan. Pedangang yang menjadi pelaku utama perkembangan ekonomi, menjadi tokoh penggerak perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved