Citizen Reporter
Teladani Semangat Lahirnya Sumpah Pemuda, Hilangkan Kebencian
semua hal dapat dikonfirmasi dan diklarifikasi hanya dalam hitungan detik. Itulah kehidupan diera globalisasi dan digitalisasi.
Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Nasaruddin
Citizen Reporter
Zulfian, Staff Humas, PDE dan Sandi Setda Sambas
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Wakil Bupati Sambas, Hairiah mengungkapkan, sebetulnya, tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci.
Karena semua hal dapat dikonfirmasi dan diklarifikasi hanya dalam hitungan detik. Itulah kehidupan diera globalisasi dan digitalisasi.
Penegasan itu dikatakannya saat membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga RI pada peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2017 di halaman Kantor Bupati Sambas, Senin (30/10/2017).
(Baca: Waspada! Setiap Hari 5 Kilogram Narkoba Masuk ke Kabupaten Sambas, Infonya Valid Lho )
Dia mengatakan rasa kebencian yang mudah sekali ditebar melalui dunia digital saat ini harus malu dengan berkaca dari lahirnya sejarah sumpah pemuda.
Sumpah pemuda dijelaskan Wabup diikrarkan oleh 71 pemuda dari seluruh penjuru tanah air yang berkumpul di Jakarta dengan beragam perbedaan suku, agama, bahasa hingga jarak wilayah masing-masing.
"Anehnya justru dengan berbagai macam kemudahan yang kita miliki hari ini, kita justru lebih sering berselisih paham, mudah sekali memvonis orang, mudah sekali berpecah belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian," ujar Hairiah.
(Baca: 15 Foto Fenomenal yang Nyaris Tak Diketahui! Kenalin, Ini Dia Wanita Pertama Jadi Pengemudi )
Mudahnya menebar hal negatif itu, kata Hairiah seolah-olah kehidupan sosial masyarakat dipisahkan oleh jarak yang tidak terjangkau atau berada diruang isolasi yang tidak terjamah atau ruangan yang tidak dapat ditembusoleh siapapun.
Menurut Hairiah, seharusnya kemudahan teknologi dan sarana transportasi saat ini, membuat kita untuk lebih mudah berkumpul, bersilaturahmi dan berinteraksi sosial.
"Sebetulnya, tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci, karena semua hal dapat kita konfirmasi dan kita klarifikasi hanya dalam hitungan detik,"ungkap Hairiah.
Proklamator NKRI saja, tambah Wabup, pernah menyampaikan bagaimana harusnya pemuda berkarya.
Kata dia, pemuda sekarang harus lebih baik dari generasi sebelumnya, bukan sebaliknya.
"Bung Karno pernah menyampaikan jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekedar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir," jelasnya.
Ruang untuk pemuda berkarya terang Hairiah masih terbuka luas dan lebar.
Kemiskinan, kebodohan, ancaman krisis moral, narkoba hingga pergaulan bebas harus dilawan dengan langkah nyata.
Persatuan dan kesatuan harus tetap digelorakan, stop segala bentuk perdepatan yang mengarah pada perpecahan bangsa.
"Sudah saatnya kita melangkah kepada tujuan yang lebih besar, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial di seluruh penjuru Indonesia," sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/wakil-bupati-sambas-hj-hairiah-sh-mh_20171103_011433.jpg)