Pameran EKonomi Kreatif 2017

95 Persen Pangsa Pasar Produk Conduct Metalworks Luar Negeri

Produk yang buatnya secara ekslusif mampu menembus pasar internasional dengan harga tertinggi mencapai Rp50 juta.

Tayang:
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Gusti Aditiarakhman saat mengerjakan karya sculpture yang dibuatnya di rumahnya di Komplek Purnama Agung 7 X27, Jalan Purnama, Pontianak, Rabu (25/10/2017) sore. Hasil-hasil karyanya baik berupa sculpture ataupun Handmade Rock 'N Roll Jewelry yaitu Conduct Metalworks mampu menembus pasar internasional. 

"Sukanya dalam berkarya ketika karya saya di senangi bahkan dibeli oleh orang yang nggak pernah saya kenal dan temui sama sekali. Dan saya juga bangga ketika mereka dengan bangga menggunakan apa yang sudah saya buat. Saya juga suka dengan orang yang tidak menyukai atau mencemooh karya saya karena itu merupakan motivasi bagi saya agar bisa lebih baik lagi,"ujarnya.

Respon para penikmat karya kata Adit sangat beragam. Ada yang sangat puas dan ada kurang puas bahkan membandingkan dengan karya dari orang lain. Makanya sampai sekarang pun Adit mengakui ia masih harus banyak belajar.

Namanya handmade kata dia tidak ada barang yang persis sama walaupun dengan design yang sama. "Sampai sekarang karya saya lebih banyak di hargai di luar Indonesia,"ujarnya.

Jenis bahan yang digunakan saat ini dalam pembuatan produk adalah Pewter Alloy untuk hasil jadinya. Sedangkan untuk pembuatan master (prototype/purwarupa) dari bahan Polymer Clay atau juga wax.

Untuk 1 unit design diakuinya bisa memakan waktu pengerjaan 2-6 minggu. Kendalanya di Kalbar bahan baku serta alat pembuatan master atau prototype harus di datangkan dari luar Kalimantan, bahkan harus import dari luar negeri jika stock kosong di Indonesia.

"Tingkat kesulitan sangat beragam, tidak ada yang sama pada setiap pengerjaan. Semakin  kecil, detil semakin sulit. Besar juga bukan berarti lebih mudah. Saat ini semuanya di produksi di Pontianak di studio sekaligus rumah saya. Hingga saat ini segala sesuatunya masih dikerjakan sendiri. Teknik yang digunakan adalah teknik cor dan juga ukir atau tempa logam seperti pada umumnya," ujarnya.

Tantangannya di akui adalah saat memperkenalkan karyanya ke khalayak ramai. "Dukanya ketika orang-orang menghargai teramat sangat rendah hasil karya buatan tangan. Mereka membandingkan denan produk massal buatan negara lain yang memang jauh lebih murah (karena diproduksi secara massal),"ujarnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved