Digital Ubah Wajah Dunia

Jika pertumbuhannya stabil, diperkirakan pada 2022 nanti ada 9 miliar pengguna internet mobile di dunia.

Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNFILE/IST
ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - SEKARANG ini era digital! Wajah dunia berubah.

Lalu kita ingat akan seorang penulis lama Alfin Toffler yang pernah heboh dengan buku: Future Schock! (Kejutan Masadepan). Alvin Toffler --lahir di Brooklyn, New York City, 4 Oktober 1928-- adalah seorang penulis dan futurolog Amerika, yang dikenal karena karya-karyanya membahas mengenai revolusi digital, revolusi komunikasi, dan singularitas teknologi.

Sekarang ini di beberapa beberapa belahan dunia mengalami kejutan-kejutan secara terus-menerus, akibat kemajuan teknologi, khususnya teknologi digital.

(Baca: 7 Foto Paling Bikin Kamu Gagal Paham, Nomor 5 Sepertinya Mengerikan, Tapi! )

Laporan terbaru dari perusahaan telekomunikasi Ericsson menunjukkan pertumbuhan pengguna internet mobile yang signifikan secara global. Saat ini, rata-rata ada 1 juta pengguna internet mobile baru setiap harinya.

Jika pertumbuhannya stabil, diperkirakan pada 2022 nanti ada 9 miliar pengguna internet mobile di dunia. Angka itu melebihi jumlah penduduk bumi saat ini yang hanya berkisar 7,5 miliar orang.

Indonesia sendiri berkontribusi secara signifikan dalam menunjang pertumbuhan pengguna internet mobile di dunia, sebagaimana tertera dalam Ericsson Mobility Report yang dijabarkan Juli 2017 lalu Jakarta.

(Baca: Elektabilitas Golkar Merosot Pasca Setnov Tersandung Masalah Korupsi, Ini Kata Akbar Tanjung )

Selama kuartal pertama 2017, ada lebih dari 10 juta pengguna internet mobile baru yang berasal dari Tanah Air. Angka itu menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga dengan pertumbuhan pengguna internet mobile terbesar.

Secara keseluruhan ada 107 juta pengguna internet mobile baru sepanjang kuartal pertama 2017. Angka itu meningkat 70 persen dari kuartal pertama 2016.

Gambaran ini menunjukkan kepada bahwa sesungguhnya sebagai pasar, bangsa Indonesia mampu menyerap begitu besar peranti global ini menjadi bagian kehidupan sehari hari.

Bagaimanapun juga kita sekarang ini sudah `dibelenggu' oleh namanya handphone sebagai perangkat yang melekat secara pribadi di setiap waktu kehidupan kita. Seolah-olah kita kelak tidak akan bisa hidup tanpa handphone, tanpa komunikasi.

Perangkat ini bukan sekadar menjadi alat penghubung biasa, tetapi sudah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan.

Lalu kemudian muncul pameo: Lebih baik tidak sarapan untuk beli pulsa.

Artinya kita sekarang ini mendahulukan pulsa sebagai kebutuhan paling depan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved