Citizen Reporter

Romansa dan Hakikat Dalam Pementasan Teater Ketupat SMAN 4 Pontianak

Terkadang banyak yang menilai cinta itu sederhana, selayaknya dua pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran, jatuh hati, dan tidak peduli dengan apapun.

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Romansa dan Hakikat dalam Pementasan Teater Ketupat SMAN 4 Pontianak. 

Lebih lanjut, Adip mengatakan, bahwa cinta yang ingin disampaikan, bukan cinta yang secara umum dilihat saat ini, cinta yang ada dalam pementasan ini menurutnya memiliki ruang lingkup yang luas sehingga dapat dimaknai tidak dengan sesederhana yang pada umumnya.

“Percintaan secara hakikat, bukan secara awal mula pertemuan dan lain-lain. Cinta yang ada timbul karena kebesaran hati, misalnya maklmumat yang keluar dari raja, membuat putrinya siap berkorban apapun” katanya.

Menurut Adip, tujuan yang akan disampaikan adalah agar kita lebih banyak untuk terbuka kepada orang lain.

Lebih banyak untuk menilai seseorang tidak hanya dari luarnya saja.

Seperti melihat orang lain berdasarkan perjuangan dan pengorbanan yang telah dibuat.

“Tujuannya, bagaimana kita melihat seseorang bukan melihat dari fisik, tetapi melihat dari pengorbanan dan perjuangannya untuk sesuatu yang besar. Seperti dalam pementasan ini ketika raja disihir, seluruh keluarga, seluruh daerah kekuasaannya menjadi gusar. Jadi, tercipta tanggung jawab yang besar. Intinya jangan melihat dari fisik, tetapi melihatlah dari hatinya,” tegasnya.

Adip menegaskan, bahwa dari luar konteks naskah yang dipentaskan, ia menginginkan adanya kecintaan terhadap budaya yang dimiliki.

Ia mengatakan, jika saat ini siswa sudah banyak mencintai budayanya, maka budaya yang ada akan lebih mudah untuk dilestarikan.

Khusus dalam pementasan ini, ia sangat berharap para penonton yang mayoritas adalah siswa sekolah lebih banyak memperkuat wawasan tentang budaya dan tradisi yang dimilikinya.

“Ini diluar dari konteks naskah, pesan yang bisa disampaikan bahwasanya anak-anak sekolah mencintai tradisi. Bagaimana anak-anak sekolah tau akan budayanya, agar budaya dan tradisi tidak dimakan zaman. Intinya, pesan moral karena sebagian besar adalah penontonnya anak sekolah” tegasnya. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved