Teror Pil Zombie

Peredaran pil zombie itu patut diduga juga beredar di daerah lainnya, termasuk Kalimantan

Teror Pil Zombie
Facebook
Teror Pil PCC 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID -  Para orangtua kini dibuat resah dengan peredaran obat PCC yang viral di media sosial. Terlebih, dari sembilan orang tersangka pengedar pil PCC yang sudah ditangkap, ada oknum apoteker dan asisten apoteker ikut menyebarkan obat keras yang mengandung Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol ini kepada anak-anak.

Pil itu telah merenggut nyawa dua pelajar, dan membuat 83 orang anak dan remaja yang mengonsumsinya di kota Kendari, Sulawesi Tenggara terganggu mentalnya. Lebih memprihatinkan lagi, ternyata pil yang membuat pemakainya berperilaku seperti zombie (mayat hidup) itu juga beredar di kota lain.

Sebanyak 29.000 butir pil PCC disita Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Makassar, dari salah satu ruko pedagang besar farmasi di kota itu, Jumat (15/9) lalu.

Sedangkan di Jayapura, Papua, polisi mengamankan 1.010 pil zombie dari kantor ekspedisi. Di Kendari, dari tangan para tersangka, polisi menyita ribuan pil PCC, Somadril dan Tramadol.

Temuan kasus ini bermula dari video yang diviralkan via facebook warga Kendari pada 13 September 2017. Dalam video itu, terlihat remaja laki-laki merangkak di atas kubangan air. Mata mendelik, kepala terangguk-angguk naik turun.

(Baca: Buaya Sempat Bawa Jasad Pawang Supriyanto ke Permukaan, Ngeri ! )

Sang bocah, yang tak diketahui namanya, seperti berada dalam dunianya sendiri. Tak acuh. Dia berusaha bangkit, tapi tidak bisa. Lalu jatuh telentang, tak peduli air kubangan di depannya.

Laporan awal terdapat sekitar 50 pelajar dan pegawai dirawat di sejumlah rumah sakit di Kendari karena mengalami gejala gangguan mental usai mengonsumsi obat-obatan, seperti Somadril, Tramadol, dan PCC. Ketiga jenis obat itu dicampur dan diminum secara bersamaan dengan menggunakan minuman keras oplosan.

Pil PCC tersebut ternyata beredar bebas dan bisa dijual kepada para pelajar ini dengan harga Rp 25.000 untuk 20 butir. Badan Narkotika Nasional sudah memastikan bahwa pil PCC yang izin edarnya telah resmi dicabut pemerintah pada tahun 2013 lalu itu bukan narkoba jenis flakka yang menyerupai kokain, tetapi telah dimodifikasi agar harganya bisa terjangkau.

Peredaran pil zombie itu patut diduga juga beredar di daerah lainnya, termasuk Kalimantan. Oleh karenanya, sudah semestinya seluruh aparat berwenang serta pemerintah serius dan tidak tinggal diam dalam menghadapi peredaran pil yang meresahkan masyarakat ini. Ini menjadi tantangan bagi BNN, kepolisian dan pemerintah untuk betul-betul hadir menyelamatkan generasi muda serta anak remaja dari kejahatan mengerikan ini.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved