Apresiasi Sikap Responsif DPR
Kepastian pembatalan proyek apartemen DPR di Taman Ria Senayan itu disampaikan Ketua DPR Setya Novanto kepada wartawan di Gedung DPR Senayan.
Penulis: Ahmad Suroso | Editor: Rizky Zulham
Alasan membangun gedung baru, karena ruang kerja yang ada saat ini kurang representatif bagi legislator untuk bisa melaksanakan tugasnya menyuarakan aspirasi rakyat.
Beberapa hari lalu, desakan agar gedung baru parlemen segera direalisasikan bergema lagi. Bahkan, menggunakan alasan gedung lama sudah miring sekitar tujuh derajat, mengalahkan destinasi wisata dunia, Menara Pisa yang kemiringannya hanya empat derajat.
Publik pun sontak bereaksi keras. Mereka menilai itu sebagai pemborosan anggaran. Anggota DPR dinilai tidak memiliki sensitivitas terhadap kondisi mayoritas rakyat yang berada di kelompok menengah ke bawah.
Mereka juga dituding tidak memiliki skala prioritas dalam bekerja, terlebih jika dibandingkan dengan masih rendahnya kinerja dewan. Satu hal lagi, anggota dewan "dekat" dengan godaan korupsi sementara proyek renovasi itu memiliki potensi besar sebagai ajang korupsi.
Terkait keinginan pembangunan gedung baru itu, muncul sentilan dari mantan anggota DPR yang juga mentan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Tanpa menyebut pihak yang dimaksud, Mahfud menulis di akun Twitter: Hasil penelitian PU (Pekerjaan Umum, red) gedung DPR tidak miring. Yang bilang miring itulah yang miring.
Pertanyaannya, apakah memang kondisi dan fasilitas yang diberikan negara untuk 556 anggota DPR itu memang benar tak layak lagi?
Apa parameter layak-tidaknya dukungan fasilitas kantor agar mereka bisa bekerja secara baik? Upaya meyakinkan masyarakat itu menjadi kunci penting karena hingga kini harus diakui, banyak yang kurang percaya bahkan apatis terhadap DPR.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ilustrasi-apartemen_20170823_082958.jpg)