Liputan Khusus

Transaksi Pakai Ringgit, Warga Bergantung Sembako Malaysia

Warga kita kalau berbelanja di Teluk Melano pakai mata uang ringgit. Biasa juga rupiah diterima juga.

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / TITO RAMADHANI
Pedagang di Perbatasan saat menunjukkan pecahan rupiah dan ringgit di tokonya, belum lama ini 

Pakai Motor

Di tokonya, Budi menjual sejumlah produk Malaysia. Antara lain tepung cap Lili seberat 1 kilogram, yang diproduksi Sawarak Flour Mill SDN BHD. Harganya Rp 10 ribu per bungkus. Harga resminya 1.35 RM, tapi kalau beli di Teluk Melano 2.50 RM.

Ada juga minyak makan cap Tukang Masak produksi Syarikat Kion Hoong Cooking Oil Mills SDN BHD. Untuk ukuran 1 kilogram dijual Budi Rp 15 ribu, belinya di Teluk Melano 4 RM. Untuk beras, Budi menyetok merek Sun Rice produksi Harvest Establishment SDN BHD, gulanya juga asal Malaysia merek CSR.

"Gula CSR itu saya jual di sini Rp 15 ribu perkilo. Saya beli di Teluk Melano 3.80 RM. Untuk telur, kalau harganya murah di kita, saya belanja di Indonesia. Belinya di Toko Bintang Batas. Tapi kalau lebih murah di Melano, saya beli di sana. Biasanya satu pak isi 30 butir telur di Melano sekitar 11 RM sampai 12 RM. Sama kalau di Indonesia saya beli per pak ini juga, harganya kisaran Rp 40 ribu sampai Rp 42 ribu. Kalau di kita, harga ndak stabil. Ada waktu telurnya langka, harga jadi mahal," ungkapnya.

Budi juga menjual susunan produk-produk minuman buatan Indonesia. Baik yang sachet hingga kemasan botol. Begitu pula dengan produk makanan ringan, mi instan, kecap, permen, sarden, sabun mandi, deterjen, dan obat anti nyamuk.

Pedagang besar di Temajuk menurut kisahnya kerap berbelanja ke Liku menggunakan truk. "Tapi kalau belanja di Teluk Melano ndak bisa pakai mobil, hanya diperbolehkan pakai sepeda motor. Ndak ada dibatasi berapa jumlah belanjaan. Hanya tergantungnya seberapa banyak jumlah stok barang di sana. Kadang stok barang di sana agak kurang, di sana juga ketergantungan dengan stok," urainya.

Tak jarang Budi menemukan tidak ada stok telur, tepung atau pun minyak goreng di Teluk Melano. Ia sangat kerasan berdagang di Indonesia. Ia sama sekali tak tertarik untuk berdagang di Teluk Melano.

"Kalau saya pribadi melihat lebih enak berdagang di sini. Masih enak di sini, karena masih ramai pelanggannya. Kalau warga di sana masih ada yang senang berbelanja langsung ke Sematan. Jadi jarang juga warga Teluk Melano yang belanja di toko-toko sekitar mereka," imbuhnya.

Budi kerap melihat, warga Malaysia di Teluk Melano sekali belanja di Sematan, membeli semua keperluannya, untuk stok beberapa bulan. "Paling mereka berbelanja di Temajuk sini untuk keperluan kecil-kecil saja. Mereka kan ndak mungkin belanja sampai di Liku. Mereka pasti mengejar ke toko-toko kecil seperti punya saya ini," jelas Budi.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved