Liputan Khusus
Transaksi Pakai Ringgit, Warga Bergantung Sembako Malaysia
Warga kita kalau berbelanja di Teluk Melano pakai mata uang ringgit. Biasa juga rupiah diterima juga.
Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Jamadin
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Warga Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, yang berbatasan langsung dengan Desa Telok Melano, Malaysia, menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidupnya dari produk-produk Malaysia.
Kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako) seperti beras, gula, elpiji, minyak goreng, telur, dan lainnya, lebih banyak dipasok dari negara tetangga. Warga pun lebih memilih produk-produk Malaysia ketimbang barang dalam negeri, karena harganya lebih muah.
Satu di antara pedagang sembako di Temajuk, Budiman, menuturkan bahan-bahan sembako itu didapat dari Teluk Melano. Untuk belanja di Teluk Melano, para pedagang di Temajuk menggunakan dua mata uang, Ringgit Malaysia dan Rupiah Indonesia.
Baca: Rutan Klas IIB Putussibau Gelar Upacara Remisi Narapidana, Tonton Videonya
"Warga kita kalau berbelanja di Teluk Melano pakai mata uang ringgit. Biasa juga rupiah diterima juga. Saya belanja pakai ringgit. Kan biasanya dapat ringgit dari pelanggan yang belanja. Kalau ada warga kita yang bekerja di sana kan dia dapat bayaran pakai ringgit. Jadi mereka tukar ke saya," kata Budiman kepada Tribun, Senin (14/8).
Pria yang akrab disapa Budi ini membuka warung sembako beberapa meter dari Pos Lintas Batas (PLB Indonesia-Malaysia. "Atau pun juga ada warga Malaysia yang berbelanja ke sini, dia bawanya uang ringgit.
Kalau kita belanja pakai rupiah di sana, lebih mahal. RM 1 nilai tukarnya dihitung orang sana Rp 3.300. Jadi kalau pakai rupiah berbelanja di sana, harga barang jadi lebih mahal. Kalau di sini, ada orang yang tukar ke saya. RM 1 saya nilai Rp 3 ribu," tuturnya.
Ia menegaskan, dalam kesehariannya warga Temajuk tak menggunakan ringgit untuk berbelanja di toko dan warung yang ada di Desa Temajuk. Warga menggunakan tetap rupiah untuk bertransaksi.
Baca: Makna Kemerdekaan Bagi Minamas Plantation
"Di sini ndak ada yang berbelanja pakai ringgit. Mereka belanjanya pakai rupiah. Kecuali warga Teluk Melano yang kalau sore-sore jalan ke sini. Mereka biasanya belanja barang-barang yang ndak ada di tempatnya. Misalnya sayur-sayur, karena di sana ndak ada yang menanam seperti kita di sini. Kalau saya kan tanam sendiri saja di depan rumah," ujar Budi.
Warga Dusun Malek, Sambas, ini merintis usahanya sejak 8 tahun silam. "Yang saya jual ini hanya sembako. Yang belanja warga sekitar di Dusun Sempadan ini. Ya termasuk juga personel TNI yang bertugas di Pos Libas sini. Biasanya mereka beli minuman dingin, minta rebuskan mi instan," ungkapnya.
Budi mengatakan, walau berdagang di sekitar perbatasan Indonesia -Malaysia, ia tak melulu harus rutin berbelanja ke Teluk Melano. Ia baru belanja ke Teluk Melano saat beberapa produk sembako di warungnya mulai habis. "Kalau seminggu sekali ada mungkin saya belanja di Teluk Melano. Belanjanya ya produk beras, minyak goreng, gula, telur," jelasnya.
Ia tak pernah berbelanja minuman jenis kopi di Teluk Melano. Justru warga Teluk Melano yang kerap berbelanja minuman kopi ke Temajuk. "Kalau kopi ndak, kopi dari kita semua. Karena kita kan banyak produk kopi sachet. Pedagang sana biasanya datang belanja ke toko Bintang Batas milik Pak Didit, biasanya sampai satu kotak mereka belanja. Sembakolah yang banyak saya jual ini. Saya pun berbelanja sama kawan di situ, sama Pak Didit, tokonya masih di Desa Temajuk ini juga," papar Budi.
Budi memaparkan, sejumlah bahan pokok yang kerap dibelinya di Teluk Melano, seperti beras, gula, minyak goreng dan telur. "Paling yang saya belanja di Malaysia itu, beras dan gula. Berasnya macam-macam, tergantung mereknya. Kalau saya ada jual merek Nyaman atau Sun Rice. Kalau di Melano kita beli harganya 29 RM, jadi kalau saya jual di sini Rp 95 ribu. Kalau beras produk Indonesia, ndak ada saya jual," tegasnya.
Pakai Motor
Di tokonya, Budi menjual sejumlah produk Malaysia. Antara lain tepung cap Lili seberat 1 kilogram, yang diproduksi Sawarak Flour Mill SDN BHD. Harganya Rp 10 ribu per bungkus. Harga resminya 1.35 RM, tapi kalau beli di Teluk Melano 2.50 RM.
Ada juga minyak makan cap Tukang Masak produksi Syarikat Kion Hoong Cooking Oil Mills SDN BHD. Untuk ukuran 1 kilogram dijual Budi Rp 15 ribu, belinya di Teluk Melano 4 RM. Untuk beras, Budi menyetok merek Sun Rice produksi Harvest Establishment SDN BHD, gulanya juga asal Malaysia merek CSR.
"Gula CSR itu saya jual di sini Rp 15 ribu perkilo. Saya beli di Teluk Melano 3.80 RM. Untuk telur, kalau harganya murah di kita, saya belanja di Indonesia. Belinya di Toko Bintang Batas. Tapi kalau lebih murah di Melano, saya beli di sana. Biasanya satu pak isi 30 butir telur di Melano sekitar 11 RM sampai 12 RM. Sama kalau di Indonesia saya beli per pak ini juga, harganya kisaran Rp 40 ribu sampai Rp 42 ribu. Kalau di kita, harga ndak stabil. Ada waktu telurnya langka, harga jadi mahal," ungkapnya.
Budi juga menjual susunan produk-produk minuman buatan Indonesia. Baik yang sachet hingga kemasan botol. Begitu pula dengan produk makanan ringan, mi instan, kecap, permen, sarden, sabun mandi, deterjen, dan obat anti nyamuk.
Pedagang besar di Temajuk menurut kisahnya kerap berbelanja ke Liku menggunakan truk. "Tapi kalau belanja di Teluk Melano ndak bisa pakai mobil, hanya diperbolehkan pakai sepeda motor. Ndak ada dibatasi berapa jumlah belanjaan. Hanya tergantungnya seberapa banyak jumlah stok barang di sana. Kadang stok barang di sana agak kurang, di sana juga ketergantungan dengan stok," urainya.
Tak jarang Budi menemukan tidak ada stok telur, tepung atau pun minyak goreng di Teluk Melano. Ia sangat kerasan berdagang di Indonesia. Ia sama sekali tak tertarik untuk berdagang di Teluk Melano.
"Kalau saya pribadi melihat lebih enak berdagang di sini. Masih enak di sini, karena masih ramai pelanggannya. Kalau warga di sana masih ada yang senang berbelanja langsung ke Sematan. Jadi jarang juga warga Teluk Melano yang belanja di toko-toko sekitar mereka," imbuhnya.
Budi kerap melihat, warga Malaysia di Teluk Melano sekali belanja di Sematan, membeli semua keperluannya, untuk stok beberapa bulan. "Paling mereka berbelanja di Temajuk sini untuk keperluan kecil-kecil saja. Mereka kan ndak mungkin belanja sampai di Liku. Mereka pasti mengejar ke toko-toko kecil seperti punya saya ini," jelas Budi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/tunjukkan-ringgit_20170817_113612.jpg)