Kongres Dayak Internasional

Terkesan Romantis, Dara Manis Ini Pilih Lestarikan Budaya Bermain Sape

Dara manis yang mengaku mengenal Sape dari kecil atau SD ini, karena sudah ikut sanggar untuk menari dan mendengarkan alunan Sape itu sendiri.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIDHO PANJI PRADANA
Alviria Liling Suryana (21) salah seorang generasi muda lebih memilih untuk menekuni dan mempelajari alat seni yaitu Sape. 

Dikatakannya, pemasaran Sape yang diproduksinya telah sampai Kuching Malaysia, dan menghabiskan sembilan jenis Sape.

Untuk di Kalbar, menurutnya pun masih banyak peminat Sape, hanya yang menjadi masalah adalah menjelaskan kepada calon pembeli bahan asli dan KW, karena pada umumnya mendengar harga mahal pembeli akan enggan.

"Di Kalbar jika berbicara pelestarian Sape, saya seorang Ibu Rumah Tangga cukup bingung, karena bunyi Sape sekarang sudah aneh-aneh, hampir tidak ada bedanya dengan gitar dan orgen. Kemarin juga diadakan lomba Sape saat gawai Dayak, namun bunyi Sape sudah modern dan punya daerah lain," kata dia.

Ia pun menyarankan agar lebih tepat jika mengadakan lomba di Kalbar dengan tujuan pelestarian, maka harus dikembalikan kewarisan nenek moyang Kalbar.

Dengan begitu, kata dia, anak cucu kedepan akan tau Sape Kalbar, begitu juga dengan busana daerah suku Dayak.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved