Melihat Masjid Agung Djenne Yang Terbuat dari Lumpur
Maka wajar saja jika kemudian UNESCO memasukan masjid yang berdiri diatas lahan seluas 75 x 75 meter ini sebagai salah satu situs warisan dunia.
Para penduduk akan berkumpul di masjid untuk mendengarkan musik dan menyantap aneka makanan. Namun prosesi paling utama yakni bergotong royong untuk memperbaiki bangunan masjid.
Semuanya ikut serta, bahkan anak-anak ikut membantu dengan mencampur tanah liat yang digunakan untuk melapisi bagian dinding.
Para laki-laki memiliki tugas memeriksa dinding-dinding yang retak. Sementara para wanita mempersiapkan makanan untuk mereka yang tengah bekerja.
Dengan tradisi tersebut, masyarakat setempat menggap bahwa masjid ini tak hanya sebagai tempat ibadah namun juga media mempersatukan warga masyarakat dalam ikatan yang kuat semisal dalam festival yang digelar tahunan.
Terlarang untuk Turis
Sayangnya, pada tahun 1996 masyarakat setempat memberlakukan larangan kunjungan ke dalam masjid untuk para turis. Ini dilakukan setelah terjadi peristiwa yang dianggap tidak pantas.
Seorang model dengan pakaian tak pantas, melakukan sesi pemotretan dengan latar belakang dinding masjid.
Kejadian itu sempat memicu kemarahan warga setempat. Sejak saat itu, mereka pun memberlakukan peraturan yang sangat ketat terhadap pengunjung bahkan beberapa diantaranya dilarang memasuki masjid. Kalau pun ada yang ingin masuk, maka mereka harus diantar atau dipandu oleh penduduk setempat dengan batasan-batasan akses tertentu.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/masjid-agung-djenne_20170601_195653.jpg)