Festival Peh Cun Pontianak
Tradisi Mandi Tengah Hari Dipercaya Datangkan Berkah dan Keselamatan
Masyarakat berharap segala sifat buruk dan tabiat yang tidak baik, biar dihanyutkan mengikuti derasnya arus air yang mengalir.
Penulis: Marlen Sitinjak | Editor: Marlen Sitinjak
Citizen Reporter
Ketua Kaum Muda Tionghoa (KMT) Kalimantan Barat: Steven Greatness
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Perayaan Duan Wu Jie atau dikenal dengan sebutan festival Peh Cun di kalangan Tionghoa Indonesia merupakan satu di antara festival penting dalam tradisi dan kebudayaan Tionghoa.
Peh Cun adalah dialek Hokkian yang berarti mendayung perahu, sedangkan orang Khek atau Hakka menyebutnya Ng Nyiat Ciet dan Ngow Gwek Cot disebut oleh orang Teochew merupakan tradisi yang diperingati setiap tahun secara turun temurun.
Meski perlombaan perahu naga tak lagi populer di kalangan Tionghoa Indonesia, tapi istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival tersebut.
Perayaan Duan Wu Jie dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2.300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou.
Tahun ini, Duan Wu Jie pada kalender masehi jatuh pada Selasa (30/5/2017). Terdapat banyak sekali versi mengenai asal usul tentang perayaan Duan Wu Jie.
Baca: Perayaan Duan Wu Jie atau Perayaan Bakcang di Sungai Kapuas Pontianak
Di antaranya adalah cerita tentang kematian Tokoh Patriot Qu Yuan, cerita tentang Perdana Menteri Wu Zi Xu di negara Chu yang setia dengan negaranya, serta cerita tentang anak yang berbakti Chao E.
Namun versi yang paling berpengaruh dan paling banyak diceritakan adalah mengenai kematian Tokoh Patriot Negara Chu yang bernama Qu Yuan di zaman Chun Qiu Zhan Guo.
Sementara kegiatan yang berkaitan dengan perayaan Duan Wu Jie, di antaranya tradisi lomba perahu naga yang biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu.
Kegiatan lainnya seperti makan cang (kicang atau bakcang), menggantungkan rumput Ai dan Changpu di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit, mandi tengah hari, tradisi mendirikan telur ayam tepat jam 12 siang, serta masih banyak kegiatan dan tradisi lainnya.
Dari beberapa kegiatan tersebut, tradisi mandi tengah hari dan makan bakcang adalah kegiatan yang masih dilakukan oleh hampir semua kalangan Tionghoa Indonesia.
Tradisi mandi tengah hari (wu shi), antara pukul 11.00 sampai 13.00 di sungai atau laut dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa tradisional dapat memberikan berkah, dan keselamatan.
Masyarakat berharap segala sifat buruk dan tabiat yang tidak baik, biar dihanyutkan mengikuti derasnya arus air yang mengalir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mandi-bakcang_20170530_201026.jpg)