Sekali Panen Sahang, Warga Suruh Tembawang Raup Puluhan Juta
Untuk menuju dua dusun ini, setidaknya harus menyusuri Sungai Sekayam dengan long boat yang menghabiskan waktu sekitar empat jam.
Penulis: Nina Soraya | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, ENTIKONG - Budidaya sahang atau lada di Dusun Suruh Tembawang dan Kebak Raya, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau merupakan komoditas tanaman perkebunan yang dapat menunjang perekonomian dan kehidupan masyarakat daerah ini.
Hal ini beralasan sekali karena sebagian besar penduduk di sini yang bermukim di pinggiran Sungai Sekayam ini masih mengandalkan sumber penghasilan dari kebun lada.
Untuk menuju dua dusun ini, setidaknya harus menyusuri Sungai Sekayam dengan long boat yang menghabiskan waktu sekitar empat jam.
Desa Suruh Tembawang memiliki 10 dusun di dalamnya, yakni Suruh Tembawang, Kebak Raya, Sekajang, Badat Lama, Badat Baru, Pool, Gita Jaya, Senutul, Gun Jemak, dan Gun Tembawang.
Uniknya desa ini memang berbatasan langsung dengan beberapa kabupaten di Kalbar. Seperti Dusun Senutul yang berbatasan dengan Bengkayang.
Lalu Dusun Pool dan Gita Jaya yang berbatasan dengan Kabupaten Landak. Sementara Gun Jemak dan Gun Tembawang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia.
Satu di antara petani sahang, Palis, mengaku sudah lebih dari 15 tahun menanam sahang atau lada. Menurutnya potensi dari tanaman ini yang sangat besar.
Dari kebun sahang 1 haktare yang dimilikinya, bapak dua anak ini bisa mengantongi omzet Rp 40 juta-50 juta sekali panen.
"Selesai panen, lada kami jual ke Entikong. Di sana ada penampungnya. Kalau untuk lada hitam di sana bisa dibeli Rp 45 ribu per kg," katanya yang ditemui Tribun, saat sosialisasi Rupiah Tahun Emisi 2016, di Balai Desa Suruh Tembawang, Rabu (24/5/2017).
Namun untuk modal awal hingga perawatan dan lainnya juga lumayan besar. Mulai dari mengolah lahan, bibit, hingga perawatan semua butuh biaya. "Kalau dihitung-hitung sebetulnya nanam sahang ini untuk jangka panjang," katanya.
Dia mengatakan sejak tahun lalu terjadi penurunan produksi karena sahang yang membusuk. Ini terjadi karena hama dan lainnya. "Untuk tahun lalu untungnya hanya belasan juta saja," ujarnya.
Masalah lainnya yakni biaya angkut yang sangat mahal. Akses transportasi yang masih minim. Sekali angkut via jalur sungai, dirinya harus mengeluarkan biaya Rp 200 ribu. "Warga Suruh Tembawang berharap jalan bisa diperbaiki secepatnya," harapnya.
Saat ini, ia masih berpikir saham atau lada tetaplah berpotensi menjanjikan. Dirinya pun juga memiliki mata pencaharian sebagai petani ladang.
"Nanam padi di sini. Kalau sahang kan tidak setiap waktu, setahun kan hanya sekali panen. Jadi perlu mengandalkan yang lain seperti nanam padi," jelasnya.
Petani sahang di Dusun Kebak Raya, Paulus Harsono, menuturkan terbilang baru untuk 'bermain' sahang atau lada. Melihat harga jual yang lumayan, ia pun mulai tertarik menjadi petani lada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/warga-suruh-tembawan_20170528_134925.jpg)