Meski Tanpa Kasus, Pemprov Kalbar Tetap Antisipasi Penyakit Antrax

“Antrax Kalbar tidak pernah ada, tapi harus tetap antisipasi karena ditularkan melalui hewan hidup dan daging,” katanya, Rabu (1/2/2017).

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar, Abdul Manaf 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Abdul Manaf menuturkan, Kalimantan Barat masih bebas dari penyakit antrax. Hingga sekarang belum ada kasusnya penyakit ini di Kalimantan Barat.

“Antrax Kalbar tidak pernah ada, tapi harus tetap antisipasi karena ditularkan melalui hewan hidup dan daging,” katanya, Rabu (1/2/2017).

Meski tidak ditemukan antrax, dinas tetap mengambil langkah antisipasi yang dilakukan dengan mengawasi lalu lintas hewan. Jika ada hewan ternak yang akan masuk ke Kalbar harus dua persyaratan.

Pertama menyatakan hewan tersebut berasal dari daerah yang bebas antrax. Kedua awasi pemotongan karena umumnya antrax itu menular melalui daging.

Baca: Keharmonisan Budaya Wujudkan Pembangunan Kalbar

“Jika ada sapi sakit dipotong dan diperjualbelikan berbahaya sekali. Kemudian awasi jalur masuk ternak. Baik itu kambing, sapi maupun babi,” ujar Manaf.

Persyaratan kedua Manaf mengajak bupati/wali kota dengan aturan yang ada untuk melarang orang memotong hewan ternak sembarangan. Pemotongan sebaiknya dilakukan di rumah potong.

“Dengan pelarangan itu maka konsekuensinya sediakan rumah potong,” jelasnya.

Menurut Manaf pemotongan gelap dianggap sangat berberbahaya. Beda halnya jika dilakukan di rumah potong.

Pemotongan di rumah potong pasti dilakukan pemeriksaan, baik sebelum maupun sesudah hewan tersebut dipotong.

Pemeriksaan sebelum dipotong itu untuk memastikan kesehatan. Apakah hewan itu mengindikasi ada penyakit. Kemudian setelah dipotong akan dilihat semua organnya.

Dari pemeriksaan dan dokter memberikan tiga keputusan. Pertama daging ini sehat untuk dikonsumsi, kedua boleh dikonsumsi, tetapi ada bagian tertentu yang tidak boleh. Ketiga tidak boleh sama sekali dan itu termasuk antrax.

Sementara SOP-nya dari dokter hewan jika menemukan sapi deman tiba-tiba, panas tinggi dan keluar darah di telinga dan mulut maka tidak boleh dipotong.

“Apalagi mau dikonsumsi dipotong saja tidak boleh. Itu harus dimusnahkan digali lobang dan dibakar,” beber Manaf.

Ia menyebutkan antrax itu berbahaya pada spora yang bisa bertahan 20-30 tahun dalam tanah. Spora tersebut tahan terhadap pemanasan lebih dari 300 derajat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved