Betapa Kuatnya 5 Penderita Thalasemia Bertahan Hidup dari Transfusi Darah! Berikut Kisahnya
Lima pasien tersebut terdiri dari dua anak usia siswa SD, dua remaja dan satu orang dewasa.
Penulis: Anesh Viduka | Editor: Mirna Tribun
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Anesh Viduka
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Siang itu, Selasa (13/9/2016), di satu ruangan RSUD dr Soedarso Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), lima pasien terbaring lemah.
Di samping mereka terdapat kantong darah yang mengalir ke tubuhnya.
Lima pasien tersebut terdiri dari dua anak usia siswa SD, dua remaja dan satu orang dewasa.
Mereka merupakan penderita thalasemia (thaller) yang saat itu sedang melakukan tranfusi darah selama kurang lebih empat jam.
Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang diturunkan dari orangtuanya.
Dimana sel darah merah mengalami gangguan pembentukan sehingga mudah pecah dan menyebabkan kekurangan sel darah merah (anemia), yang mengharuskan si penderita melakukan transfusi darah rutin setiap bulan sepanjang hidupnya.
BACA JUGA: Penderita Thalasemia Disarankan Tak Menikah Sesama Penderita
Menurut seorang Dokter Spesialis Anak RSUD dr Soedarso, dr Nevita, tranfusi darah yang berulang serta cepatnya sel darah yang pecah akan membuat kadar zat besi menumpuk yang membahayakan penderita.
"Untuk mengatasi itu mereka juga harus minum obat rutin setiap harinya, pada zat besi kadar tertentu, obat untuk mengikat zat besi diberikan dalam bentuk suntikan 8-12 jam sehari selama lima sampai tujuh kali sepekan. Bisa dibayangkan betapa kuatnya anak-anak ini, selain itu tranfusi yang berulang juga bisa menimbulkan terjadinya penularan infeksi, dan reaksi tranfusi," kata Nevita saat ditemui, di Ruangan Thalasemia RSUD dr Soedarso, Selasa (13/9/2016).
Thalasemia bukan penyakit yang menular, namun hingga saat ini penyakit genetik ini masih belum ada obatnya, hanya bisa dicegah dengan cara tidak menikah dengan sesama pembawa sifat (pembawa gen thalasemia).
Thalasemia ada beberapa jenis,yakni thalasemia mayor, thalassemia intermedia dan thalassemia minor (pembawa sifat/pembawa gen thalasemia)
mayor memiliki gejala seperti pucat yang lama, perut yang membesar karena limpa dan hati yang membesar.
BACA JUGA: Daihatsu Gelar Fun Days Bersama 48 Penderita Thalasemia
Adanya perubahan bentuk muka, dimana dahi lebih menonjol, hidung lebih pesek, kulit kehitaman, adanya gangguan pertumbuhan, sampai gizi buruk, dan wajah menjadi khas yang disebut wajah cooley.
"Gejalanya muncul setelah beberapa bulan dilahirkan.dimana penderita akan membutuhkan tranfusi rutin tiap bulannya,"Ujar dr Nevita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/dokter-spesialis-anak_20160913_210208.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/hendi-seorang-pasien_20160913_210351.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/tari-15-seorang_20160913_210758.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/maulidia-11-seorang_20160913_200325.jpg)