Editorial

MOMENTUM EVALUASI BIRO TRAVEL HAJI

Kemenag mencatat hanya 648 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang terdaftar resmi di seluruh Indonesia.

MOMENTUM EVALUASI BIRO TRAVEL HAJI
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Angkasa Pura II Pontianak
Jemaah Calon Haji Kloter 15, sesaat setelah tiba di Bandara Hang Nadim Batam, Senin (22/8/2016). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Bisnis travel sudah lama menggiurkan untuk bisnis perjalanan haji dan umrah ke tanah suci.

Namun akhir-akhir ini tidak sedikit yang mencari kesempatan untuk menipu.

Waktu tunggu berhaji di Indonesia yang mencapai 20-30 tahun menyebabkan ketersediaan kuota dan minat ke Tanah Suci tidak berimbang.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan biro perjalanan haji dan Umrah nakal untuk menipu.

Seperti kejadian terbaru, sebanyak 177 jamaah haji Indonesia yang menggunakan dokumen paspor palsu untuk menggunakan kuota haji Filipina ditangkap aparat Filipina akhir pekan lalu.

Awalnya seperti dikutip BBC, para petugas Bandara Internasional Manila menemukan sejumlah penumpang tujuan Jeddah, Arab Saudi yang paspornya mencurigakan, Jumat (19/08/2016).

Sejumlah media melaporkan bahwa paspor palsu Filipina yang dipegang para WNI itu diperoleh dari sindikat jasa layanan pemberangkatan ibadah haji di Filipina.

Dengan membayar 6.000 hingga 10.000 dolar Amerika Serikat (AS) mereka dijanjikan dapat berangkat haji menggunakan kuota cadangan yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada Filipina.

Sindikat dari Filipina itu bekerjasama dengan agen travel di Indonesia, yakni PT Aulad Amin Insan Cemerlang di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dan biro travel Arafah Pasuruan Jatim.

Pemilik travel PT Aulad Amin, Nasir Amin, beserta istrinya ikut dalam rombongan pemberangkatan jamaah calon haji lewat Filipina juga ikut ditahan di Filipina.

Halaman
123
Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Marlen Sitinjak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved