Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss

[BAGIAN 7 (selesai)] Le Temps Arsipkan Berita 115 Tahun

Dia berupaya menelusuri satu halaman koran arsip hasil scan berita di satu tanggal di tahun 1909, yang dikaitkan dengan kata "Borneo" tersebut.

Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK FILE/CÉCILE RAIS
Gaël Hurlimann, Pemimpin Redaksi Berita Digital Koran Le Temps menjelaskan tentang arsip digital berita selama 115 tahun yang mudah diakses, Jumat (3/6/2016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID - Bayangkan berapa luas gedung yang diperlukan, untuk menyimpan dan memisahkan satu per satu arsip berita koran yang sudah berusia 115 tahun. Lantas bagaimana pula caranya efektif untuk mencari arsip sebegitu banyak? Teknologi digital adalah jawabannya.

Koran Le Temps di Swiss bekerjasama dengan peneliti di universitas, membuat website yang memungkinkan pembaca bisa mendapatkan arsip berita hanya dalam hitungan beberapa detik.

Hari terakhir kunjungan saya di Swiss, diisi diskusi menarik dengan Gaël Hurlimann, Pemimpin Redaksi Berita Digital Koran Le Temps. Jumat (3/6) pagi dia menemui saya dan Cécile di kantin Radio Télévision Suisse (RTS) di Jenewa. Kami bertiga serius berdiskusi di kantin yang masih sepi pengunjung.

Gaël menceritakan bahwa koran Le Temps terbit sejak tahun 1861. "Wow, itu usia yang tua sekali," kata saya.

Gaël mengangguk lalu berkata,"Iya. Kami punya gedung besar dan alat-alat scan besar untuk mengarsipkan berita-berita di masa lampau hingga hari ini. Satu persatu koran di-scan, lalu dimasukkan ke datanya ke super computer. Selain itu data pdf koran juga di-input."

Komputer merekam hasil scan kertas koran berupa seluruh kata, angka, dan gambar yang pernah dimuat Le Temps. Seluruh data itu diolah dengan program komputer, lantas dihubungkan ke website www.letempsarchives.ch.

Ketika pembaca membuka website tersebut, tepat di muka halaman website tersedia kolom pencarian. Bagi Anda yang hanya menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, jangan khawatir akan kesulitan memahami website berbahasa Prancis ini. Di kolom kanan atas halaman website, tersedia pilihan tiga bahasa lainnya yakni Inggris, Belanda, dan Italia.

"Mari kita coba cari kata Borneo, tempat tinggalmu," kata Gaël, sembari mengetik di keyboard dan memandangi monitor laptop di hadapannya. Dua detik kemudian dia melanjutkan ucapannya.

"Wah, ternyata analisa frekuensi berita menunjukkan tahun 1909, adalah momen tertinggi yang memuat kata 'Borneo'. Ada apa ya di tahun itu?" ujarnya.

Dia berupaya menelusuri satu halaman koran arsip hasil scan berita di satu tanggal di tahun 1909, yang dikaitkan dengan kata "Borneo" tersebut. Ternyata kata "Borneo" yang dimaksud adalah gambar iklan merek rokok kretek. Spontan saya tertawa melihat hasil pencarian, sangat berbeda dari perkiraan sebelumnya.

Saya sempat berpikir, mungkin kata "Borneo" sangat ramai dibicarakan, karena pada tahun itu Eropa sedang berupaya menjajah Indonesia.

Berdasarkan data yang ditunjukkan website, Gaël memperkirakan di masa itu, pemasang iklan sedang gencar-gencarnya mempromosikan rokok kretek "Borneo". Meski tak mencari info lebih lanjut, saya menduga rokok ini diimpor dari Indonesia. Sepertinya kretek dikenal masyarakat Eropa karena mengandung cengkeh.

Michel Bührer, anggota Komisi Editorial EQDA yang pernah berkunjung ke Jakarta, mengaku sangat menyukai aroma khas cengkeh di kretek Indonesia.

Selain menelusuri kata, Gaël mengatakan website pencarian arsip sangat membantu wartawan mendapatkan informasi tentang perjalanan karier tokoh.

"Biasanya wartawan mencari di Google tentang perjalanan karier tokoh. Tapi dengan website ini, proses pencarian bisa lebih cepat dan data yang disajikan berurutan. Akan terlihat si tokoh di tahun berapa menduduki jabatan apa, berdasarkan pemberitaan sejak beberapa tahun sebelumnya hingga kini," ujarnya.

Dia lantas menunjukkan daftar nama satu pejabat Indonesia yang terdeteksi diberitakan Le Temps pada 1956, yakni MAli Sastroamijojo, perdana menteri Indonesia kala itu.

Cécile berpendapat mesin pencarian di website tersebut memiliki kemampuan setara Google. Hasil pencarian yang didapat justru tertata lebih baik, dibanding harus mencari via Google.

Gaël menyatakan dalam merealisasikan arsip berita hingga bisa diakses kalangan umum, Le Temps selama tiga tahun bekerja sama dengan satu di antara universitas sains terkemuka di dunia, yakni École Polytechnique Fédérale di Lausanne.

Peneliti di universitas menggunakan super computer untuk mengkalkulasi berita. "Mereka menganalisa berapa banyak liputan utama, berapa banyak liputan bertema laki-laki dan perempuan. Terlihat di tahun 1800 sangat rendah pembahasan tentang perempuan. Bahkan mereka menganalisa penggunaan kata-kata di zaman dahulu, yang kini tak populer pada berita masa kini," papar Gaël.

Dia menuturkan, berdasarkan data terdeteksi 30 mahasiswa menggunakan arsip berita Le Temps. Gaël menilai hal ini berarti website ini berkontribusi terhadap dunia pendidikan Swiss. Terdapat simbiosis mutualisme antara Le Temps dan universitas.

Di masa mendatang, website ini akan dikembangkan menjadi wikipedia berbahasa Prancis. Dia berharap website pengarsipan Le Temps bakal terus maju. Di sisi lain, Gaël mengakui pengarsipan semacam ini membutuhkan dana sangat besar. Maka itu Le Temps menggandeng beberapa pendonor.

Pagi mulai beranjak siang, kami bertiga menuntaskan diskusi. Sementara saya dan Cécile hendak berangkat ke Lausanne untuk menghadiri acara perpisahan dengan teman-teman, Gaël masih belum beranjak dari kantor RTS.

Dia memanfaatkan momen reuni dengan teman-temannya di RTS. Cécile mengatakan dulu Gaël pernah bekerja di RTS. Saya dan Cécile berjalan kaki menuju parkir mobil di dekat gedung RTS, Gaël terlihat asyik berbincang dengan Tybalt dan rekannya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved