Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss
[BAGIAN 2] Update Data Hutan Tiap 16 Hari
Data didapat dari satelit yang menyuguhkan data terbaru tiap 16 hari.
Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUNPONTIANAK,CO.ID - Data dapat menjadi landasan analisa. Terra-i, proyek yang dijalankan mahasiswa dan dosen di HEIG-VD, Kota Yverdon-Les-Bains Swiss, menganalisa data deforestasi di Amerika Selatan dan Asia.
Data didapat dari satelit yang menyuguhkan data terbaru tiap 16 hari. Akademisi berkolaborasi dengan aktivis lingkungan, untuk mendorong pemerintah mengembangkan kebijakan untuk melindungi hutan.
Selasa (31/5) pagi saya dan Cécile menumpang kereta api dari stasiun di Jenewa. Kami menuju Kota Yverdon-Les-Bains Swiss. Jarak yang kami tempuh sejauh 87,8 kilometer, sekira satu jam perjalanan.
Setiba di stasiun kereta api Yverdon-Les-Bains, Cécile menggunakan smartphone miliknya untuk mencari arah jalan menuju kampus Haute Ecole d'Ingénierie et de Gestion du Canton de Vaud (HEIG-VD) atau The School of Management and Engineering Vaud.
Di kampus itu kami hendak mencari tahu tentang proyek Terra-i yang menganalisa deforestasi lewat data satelit. Tiap 16 hari, Terra-i mengolah data-data terbaru dari dua satelit National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Setelah sekira lima menit berjalan kaki di bawah rintik hujan musim semi, kami memasuki kawasan kampus. Saya dan Cécile melewati ruang-ruang kuliah dan laboratorium, yang semuanya berdinding kaca disekat bingkai baja dicat oranye. Seluruh ruangan tembus pandang.
Aktivitas mahasiswa di ruang kelas dan laboratorium langsung terlihat, ketika kami melintasi lorong
kampus. Ada satu dua orang yang duduk di bangku kelas, sekilas melihat ke arah kami, lalu dia mengembalikan pandangannya ke dosen yang sedang mengajar.
Ada juga mahasiswa yang sedang mengutak-atik peralatan di laboratorium. Selama berjalan sambil melihat ruangan di kanan dan kiri lorong, terlintas kesimpulan dalam benak saya, sepertinya kampus ini menerapkan prinsip transparansi. Tak ada aktivitas warga kampus yang ditutupi dinding semen. Semua serba transparan lewat kaca.
Julien Rebetez, mahasiswa yang menekuni proyek Terra-i di kampus itu menyambut kami di satu ruangan. Dia memperkenalkan diri, lalu mempersilakan saya dan Cécile memperhatikan satu dari dua monitor komputer di hadapannya, agar memahami pekerjaan yang dia tekuni bersama dua rekannya.
"Mari kita lihat video berdasarkan data pengurangan hutan di Pulau Kalimantan (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam). Video ini diolah dari data satelit NASA yang kami analisa dari tahun 2004 hingga 29 Agustus 2015. Tapi data ini perlu validasi, jadi belum diumumkan ke publik," kata Julien.
Monitor di sebelah kanan itu menayangkan gambar Pulau Kalimantan, dengan lingkaran kecil berwarna merah muda di beberapa titik. Dalam beberapa detik, lingkaran itu kian bertambah banyak. Hingga akhir tayangan, kumpulan lingkaran itu menutupi sebagian besar Pulau Kalimantan.
"Lingkaran kecil berwarna merah muda itu adalah tanda deforestasi, hutannya ditebang. Sejak 2004 hingga 2015 deforestasi di Kalimantan sangat cepat," ujar Julien.
Saya tertegun melihat cepatnya pulau yang berwarna hijau, kemudian didominasi lingkaran merah muda. Artinya selama 11 tahun, hutan di Kalimantan sangat banyak berkurang.
Julien menjelaskan bahwa indikator yang dipakai adalah normalize difference vegetation index (NDVI). Indeks ini didapat dari mata kamera satelit, yang menangkap spektrum sinar infra merah yang ditemukan pada proses fotosintesis tanaman.
Vegetasi yang aktif melakukan fotosintesis akan menyerap sebagian besar gelombang merah sinar matahari, dan mencerminkan gelombang near inframerah lebih tinggi.
Beberapa menit kemudian datang Andrez Perez-Uribe, dosen pembimbing Julien dan dua rekannya dalam proyek Terra-i.
"Infra merah tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena itu manusia hanya melihat bahwa tanaman berwarna hijau. Sedangkan lensa kamera dapat melihat sinar infra merah pada proses fotosintesis," katanya menjelaskan dengan bahasa awam.
Dosen yang ramah itu menceritakan bahwa Terra-i dipayungi Centro Internacional de Agricultura Tropical (CIAT) yang termasuk dalam program Decision and Policy Analysis (DAPA) di Kolombia. Sejak sembilan tahun lalu Terra-i memulai kerjasama dengan CIAT. Fokus penelitian adalah wilayah Amerika Selatan dan Asia.
Data satelit yang didapat per 16 hari, dikumpulkan dan dianalisa, lalu disampaikan ke Global Forest Watch. Selanjutnya lembaga swadaya masyarakat itu memvalidasi data, untuk dibagikan kepada publik melalui web site.
"Pemerintah Peru menggunakan data Global Forest Watch. Mereka melatih pegawainya untuk bisa mengambil dan memanfaatkan data hutan, sehingga mempengaruhi arah kebijakan pemerintah," kata Andrez.
Selain itu menurut dia Universitas Ohio mempergunakan data yang dikumpulkan Terra-i untuk menganalisa lahan kokain di Honduras, Amerika Tengah.
Julien mengatakan bahwa data yang dihimpin per 16 hari terdiri dari 1 juta pixel, sebanyak empat terabyte gambar yang diunduh dari satelit. Data satelit memiliki spasial resolusi 250 meter.
Dia dan teman-temannya mengakses data satelit yang didapat secara gratis. Lantas mereka menganalisa berdasarkan rumusan algoritma di komputer, yang memisahkan 45 jenis vegetasi. Sehingga diketahui apakah lahan yang semula terdeteksi sebagai hutan kemudian dialihfungsikan sebagai perkebunan kakao, perkebunan kelapa sawit, dan lain-lain. Menurut dia, ketika data diserahkan, CIAT mengecek dengan data algoritma. Selanjutnya data divalidasi ke geografer.
"Kami terus mengembangkan metode terbaru untuk menganalisa. Algoritma yang digunakan mempengaruhi kecepatan proses analisa. Tapi agak sulit mendapatkan dana untuk kembangkan penelitian algoritma. Pada umumnya lembaga pendanaan berpikir bahwa itu tidak terlalu mendesak," timpal Andrez.
Dia mengatakan bahwa algoritma terbaru sedang disiapkan, untuk menganalisa data hutan Amazon. Julien lantas menunjukkan seperti apa algoritma yang dimaksud di layar monitor komputer. Tertera beragam rumus, angka dan huruf yang berguna untuk menyaring data.
Julien dan Andrez mengakui bahwa kendala yang dihadapi adalah apabila gambar satelit tertutupi awan. Mereka harus menunggu selama berhari-hari hingga lokasi yang dianalisa, dapat terlihat jelas lewat satelit.
Di masa mendatang, Terra-i berupaya untuk menggabungkan data dari drone, yang mampu lebih dekat dengan obyek pengamatan dibanding satelit. Drone dapat menggali data lebih banyak pada amatan di skala kecil.