Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss

[BAGIAN 2] Update Data Hutan Tiap 16 Hari

Data didapat dari satelit yang menyuguhkan data terbaru tiap 16 hari.

Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK FILE/CÉCILE RAIS
Julien Rebetez (tengah) dan Andres Perez-Uribe menjelaskan kepada Dian Lestari, jurnalis Tribun Pontianak, tentang analisa data satelit tentang hutan, di kampus HEIG-VD, Kota Yverdon-Les-Bains Swiss, Selasa (31/5/2016). 

Beberapa menit kemudian datang Andrez Perez-Uribe, dosen pembimbing Julien dan dua rekannya dalam proyek Terra-i.

"Infra merah tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena itu manusia hanya melihat bahwa tanaman berwarna hijau. Sedangkan lensa kamera dapat melihat sinar infra merah pada proses fotosintesis," katanya menjelaskan dengan bahasa awam.

Dosen yang ramah itu menceritakan bahwa Terra-i dipayungi Centro Internacional de Agricultura Tropical (CIAT) yang termasuk dalam program Decision and Policy Analysis (DAPA) di Kolombia. Sejak sembilan tahun lalu Terra-i memulai kerjasama dengan CIAT. Fokus penelitian adalah wilayah Amerika Selatan dan Asia.

Data satelit yang didapat per 16 hari, dikumpulkan dan dianalisa, lalu disampaikan ke Global Forest Watch. Selanjutnya lembaga swadaya masyarakat itu memvalidasi data, untuk dibagikan kepada publik melalui web site.

"Pemerintah Peru menggunakan data Global Forest Watch. Mereka melatih pegawainya untuk bisa mengambil dan memanfaatkan data hutan, sehingga mempengaruhi arah kebijakan pemerintah," kata Andrez.

Selain itu menurut dia Universitas Ohio mempergunakan data yang dikumpulkan Terra-i untuk menganalisa lahan kokain di Honduras, Amerika Tengah.

Julien mengatakan bahwa data yang dihimpin per 16 hari terdiri dari 1 juta pixel, sebanyak empat terabyte gambar yang diunduh dari satelit. Data satelit memiliki spasial resolusi 250 meter.

Dia dan teman-temannya mengakses data satelit yang didapat secara gratis. Lantas mereka menganalisa berdasarkan rumusan algoritma di komputer, yang memisahkan 45 jenis vegetasi. Sehingga diketahui apakah lahan yang semula terdeteksi sebagai hutan kemudian dialihfungsikan sebagai perkebunan kakao, perkebunan kelapa sawit, dan lain-lain. Menurut dia, ketika data diserahkan, CIAT mengecek dengan data algoritma. Selanjutnya data divalidasi ke geografer.

"Kami terus mengembangkan metode terbaru untuk menganalisa. Algoritma yang digunakan mempengaruhi kecepatan proses analisa. Tapi agak sulit mendapatkan dana untuk kembangkan penelitian algoritma. Pada umumnya lembaga pendanaan berpikir bahwa itu tidak terlalu mendesak," timpal Andrez.

Dia mengatakan bahwa algoritma terbaru sedang disiapkan, untuk menganalisa data hutan Amazon. Julien lantas menunjukkan seperti apa algoritma yang dimaksud di layar monitor komputer. Tertera beragam rumus, angka dan huruf yang berguna untuk menyaring data.

Julien dan Andrez mengakui bahwa kendala yang dihadapi adalah apabila gambar satelit tertutupi awan. Mereka harus menunggu selama berhari-hari hingga lokasi yang dianalisa, dapat terlihat jelas lewat satelit.

Di masa mendatang, Terra-i berupaya untuk menggabungkan data dari drone, yang mampu lebih dekat dengan obyek pengamatan dibanding satelit. Drone dapat menggali data lebih banyak pada amatan di skala kecil.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved