Tak Miliki Kursi dan Meja, Beginilah Murid SDN 19 Dusun Empesak Entoro Belajar Setiap Harinya

Kemudian sekolah yang hanya ada tiga ruangan tersebut keadaannya sangat memperihatinkan, jendela banyak yang sudah rusak.

Penulis: Alfon Pardosi | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ALFONS PARDOSI
Elisabet, guru honorer di SDN 19 Dusun Empesak Entoro, Desa Tenguwe, Kecamatan Air Besar menunjukkan ruang kelas yang tidak memiliki bangku dan meja belum lama ini. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Siswa-siswi yang bersekolah di SDN 19 Dusun Empesak Entoro, Desa Tenguwe, Kecamatan Air Besar terpaksa belajar sambil melantai setiap harinya. Hal itu karena di ruangan kelas tidak memiliki meja dan kursi untuk belajar.

Tribun yang pagi itu datang ke sekolah tersebut melihat langsung keadaan tersebut, setiap ruangan tidak memiliki meja dan bangku. Kemudian sekolah yang hanya ada tiga ruangan tersebut keadaannya sangat memperihatinkan, jendela banyak yang sudah rusak.

Selain itu lantai serta dinding yang terbuat dari papan juga banyak yang berlubang. "Beginilah keadaan sekolah kami. Kalau pagi kami tidak belajar, nanti siang sekitar jam 1 baru mulai belajar. Karena guru yang lain lagi kerja," ujar Elisabet, guru honorer di sekolah tersebut yang sudah mengabdi 1 tahun.

Elisabet yang tinggal di rumah dinas sederhana tepat di samping sekolah itu pun menerangkan, jumlah guru yang ada hanya lima orang. Empat merupakan guru honor termasuk dirinya, dan satu guru lagi statusnya PNS dan menjabat sebagai kepala sekolah.

"Kalau jumlah murid ada sekitar 70an siswa. Untuk kegiatan belajar mengajar seperti biasa, mulai dari hari Senin sampai hari Sabtu. Yang paling sering mengajar ya kami guru honor ini, kalau kepala sekolah itu kadang-kadang saja dia datang," terangnya.

Sedangkan untuk gaji, Elisabet hanya mendapat dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Hanya Rp 500 ribu, cukup ndak cukup ya itu yang saya terima. Makanya guru honor yang lain kerja sampingan, ada juga yang kerja di perusahaan sawit," jelas ibu satu anak ini.

Dirinya sendiri bukan tidak mau bekerja di perusahaan sawit tersebut, tetapi pihak perusahaan yang tidak mau menerimanya.

"Saya permah melamar tapi tidak diterima, mungkin karena saya pendatang," kata Elisabet yang berasal dari Kecamatan Sengah Temila ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved