Teknologi Milik Israel ini Diklaim Bisa Deteksi Wajah Teroris
Sebuah video promosi dari perusahaan itu menjelaskan bahwa teknologi melampaui pengenalan wajah dan dapat memprediksi sosok teroris.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TEL AVIV - Perusahaan Faception yang berbasis di Israel mengklaim dapat melihat teroris hanya dengan menganalisis wajah setiap orang. Perusahaan itu kini bekerjasama dengan Badan Keamanan Dalam Negeri Israel untuk mengidentifikasi potensi ancaman.
Perusahaan yang didirikan tahun 2014 tersebut menggunakan visi komputer dan teknologi mesin learning untuk mendeteksi profil seseorang hanya dengan melihat wajah. Dengan cara itu, perusahaan tersebut mengaku dapat mengungkapkan berbagai ciri dan jenis kepribadian seseorang.
Sejauh ini telah dibangun 15 pengklasifikasi yang berbeda, termasuk ekstrovert, jenius, peneliti akademis, pemain poker profesional, pemain bingo, promotor merek, pelaku "kerah putih", paedofil dan teroris.
Namun, Faception dalam catatan di situsnya menyatakan, penyesuaian dan klasifikasi yang relevan dapat dibangun jika perilaku yang diinginkan berasal dari DNA seseorang. (Baca: Kuat Dugaan Pesawat EgyptAir Ditembak Teroris)
CEO Faception, Shai Gilboa, mengatakan DNA adalah kunci. "Kepribadian kami ditentukan oleh DNA dan tercermin di wajah kita. Ini semacam sinyal," katanya kepada The Washington Post.
Keamanan dalam negeri dan keselamatan publik menjadi fokus utama dari Faception, meskipun teknologi ini juga berlaku untuk layanan keuangan, pemasaran dan intelijen.
Sebuah video promosi dari perusahaan itu menjelaskan bahwa teknologi melampaui pengenalan wajah dan dapat memprediksi sosok teroris. Serangan teror di Paris pada tahun lalu diklaim menjadi referensi bagaimanan teknologi perusahaan itu dapat bekerja.
"Hanya tiga dari 11 teroris yang memiliki rekor sebelumnya, teknologi kami mengklasifikasikan sembilan dari mereka sebagai teroris yang potensial tanpa (memiliki) pengetahuan sebelumnya, itu sebabnya kami bekerja dengan Badan Keamanan Dalam Negeri terkemuka," klaim pihak perusahaan dalam video tersebut, Rabu (25/5/2016).
Gilboa mengatakan kepada The Washington Post bahwa akurasi teknologinya sekitar 80 persen, yang berarti satu dari lima orang bisa salah diklasifikasikan sebagai teroris atau paedofil.
Kendati demikian, seorang ahli juga mempertanyakan implikasi etis dari praktik teknologi itu.
"Bukti bahwa ada akurasi dalam penilaian ini sangat lemah," kata Alexander Todorov, seorang profesor psikologi di Princeton yang penelitiannya meliputi persepsi wajah. "Hanya ketika kita berpikir bahwa fisiognomi berakhir 100 tahun yang lalu," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/deteksi-wajah_20160525_151215.jpg)