Liputan Khusus

Terminal Opelet Tak Ada Lagi

Hal itu bisa dilihat di Jl Seroja, Jl Sisingamangaraja, Jl Tanjungpura (depan Pasar Sudirman) dan beberapa ruas jalan di Kota Pontianak lainnya.

Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Seorang sopir opelet sedang menunggu penumpang di kawasan persimpangan Jl Sisingamangaraja - Jl Tanjungpura, Pontianak, Kalbar, Senin (18/4/2016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID, PONTIANAK - Terminal Angkutan Kota (Angkot) di Kota Pontianak yang tidak jelas lokasinya membuat para sopir ngetem dan memarkir kendaraannya di samping badan sejumlah ruas jalan Kota Pontianak.

Hal itu bisa dilihat di Jl Seroja, Jl Sisingamangaraja, Jl Tanjungpura (depan Pasar Sudirman) dan beberapa ruas jalan di Kota Pontianak lainnya.

Hal seperti ini mendapat keluhan dari para sopir angkot. Menurut mereka apabila ada sebuah terminal tentunya naik dan turunnya penumpang lebih nyaman.

Sopir opelet Hartadin yang melayani jurusan Kampung Bali-Kota Baru mengeluhkan tidak adanya terminal yang menjadi tempat biasanya angkutan kota ini berkumpul dan aktivitas menaik turunkan penumpang yang baik seperti terminal pada umumnya.

"Kita sehari hari kayak gini gimana. Dulu sewaktu terminal di Seroja ada, kita masih enak bisa bergabung dengan semua jurusan angkot. Naik turun penumpang pasti, penumpangpun juga pasti ada, dulu kumpul di situ kayak jurusan Sui Raya, Kota Baru, Jeruju, Sungai Jawi dan lainnya," paparnya.

Hartadin juga mengatakan bahwa yang sekarang ini bukanlah terminal, karena sebenarnya ini adalah jalan raya. "Ini bukan terminal ini jalan raya," kata Hartadin.

Dia mengatakan bahwa sekarang di Kota Pontianak, tidak ada terminal jadi para supir hanya menumpang singgah dan parkir di pinggir jalan sembari menunggu penumpang.

Hartadin melanjutkan seharusnya kota Pontianak setidaknya memiliki terminal induk yang bisa mengakomodir angkutan kota dan dapat diarahkan posisi dan letaknya dimana. Sehingga jelas dan tidak lagi mangkal di pinggiran jalan.

Hartadin dan teman seprofesinya berharap moda angkutan ini dapat dibina dan diarahkan oleh pemerintah kota sehingga mereka akan melanjutkan arah dari angkutan ini karena apabila dibiarkan tentunya perlahan akan mati.

"Saya dan teman-teman di sini berharaplah, kami ini bisa dibina kemana dan bagaimana, supaya angkutan kota ini tidak mati," katanya.

Selain itu, dia berharap pemerintah membuat sebuah kebijakan supaya izin ataupun membeli sebuah kendaraan. Khusunya sepeda motor dapat dibatasi supaya kendaraan tersebut tidak terlalu memenuhi ruas jalan, sehingga menimbulkan kemacetan.

"Penumpang sekarang sepi, satu faktornya mungkin, mereka dengan uang muka yang tidak terlalu besar udah bisa beli motor, daripada pakai opelet lebih baik pakai motor," katanya.

Disamping itu, Hartadin dan rekan-rekannya berharap pemerintah dapat membangun sebuah terminal, dengan fasilitas yang memadai seperti adanya mushola dan WC.

"Saya sangat berharap terminal dikota pontianak ini bisa dibangun, dengan fasilitas yang cukup lah, kayak terminal di Sungai Raya, Sehingga akses turun naik penumpang jelas, angkutan kota tidak parkir di tepi jalan lagi," pungkasnya.

Di tempat berbeda, Mislan (47), sopir angkot jurusan Kapuas-Nipah Kuning, mengatakan hal yang serupa. Tidak jelasnya terminal ditambah banyaknya sepeda motor membuatnya resah, karena pemasukannya sebagai sopir angkot tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved