Breaking News

Catatan Perjalanan Wartawan Tribun ke AS

Santa Fe, Budaya Spanyol dan Kota Tertinggi

Saya ke Putussibau pakai kapal kelotok lewat Sungai Kapuas berhari- hari sekitar tahun 1971

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/STEFANUS AKIM
angunan di Santa Fe, New Meksiko, umumnya bulat atau tidak lancip. Bangunan tersebut merupakan perpaduan antara budaya Spanyol dan Suku Indian. Suku Indian percaya jika hantu tak mau tinggal di rumah yang sudutnya bulat. 

Saat di perjalanan dan meeting dengan sejumlah pihak pengaruh ketinggian mulai terasa. Kami cukup susah bernafas, berjalan sedikit saja nafas mulai terengah-engah. Tom McDermott yang sudah tahu akan kondisi itu membagi-bagikan air mineral yang dibawa di mobil van yang mengangkut kami.

"Banyak minum air putih atau air soda. Berjalan perlahan, jangan berlari supaya tak terengah-engah. Oksigen di sini tipis," kata Tom McDermott kembali mengingatkan.

Menjang sore kami kembali ke hotel di Santa Fe. Kota ini sangat indah, dibangun tahun 1608. Saat itu, kawasan ini adalah wilayah Mexico yang dijajah Spanyol dan dibangun Gubernur Spanyol saat itu bernama Don Pedro de Peralta.

Dari penjelasan pendamping kami Irawan Nugroho, saya baru tahu jika Santa Fe sebenarnya memiliki nama cukup panjang, yaitu La Villa Real de la Santa Fé de San Francisco de Asís-atau the Royal Town of the Holy Faith of Saint Francis of Assisi. (stefanus akim/bersambung)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved