Catatan Perjalanan Wartawan Tribun ke AS

Santa Fe, Budaya Spanyol dan Kota Tertinggi

Saya ke Putussibau pakai kapal kelotok lewat Sungai Kapuas berhari- hari sekitar tahun 1971

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/STEFANUS AKIM
angunan di Santa Fe, New Meksiko, umumnya bulat atau tidak lancip. Bangunan tersebut merupakan perpaduan antara budaya Spanyol dan Suku Indian. Suku Indian percaya jika hantu tak mau tinggal di rumah yang sudutnya bulat. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Santa Fe adalah ibu kota dari New Mexico, sebuah negara bagian di Amerika Serikat yang berada di sebelah selatan. Memiliki luas wilayah 315.194 km², kota ini sangat kental dengan nuansa Indian.

K ami peserta International Visit Leadership Program (IVLP)- Environmental Protection and Biodiversity Conservation: Forest Fires juga berkesempatan mengunjungi New Meksiko. Di negara bagian ini kegiatan kami dipusatkan di Santa Fe serta Albuquerque. Sejumlah meeting, diskusi, kunjungan ke kampus, lembaga swadaya masyarakat, lokasi kebakaran, instansi pemerintah, dan lainnya sudah disiapkan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat beserta Meridian International Centre dan panitia lokal.

Tiba di Hotel Santa Fe di 1501 Paseo de Peralta, hari sudah gelap. Sebelumnya kami mendarat di Albuquerque Airport menggunakan American Airlines dari Raleight, North Carolina menuju Dallas, Texas kemudian mendarat ke Albuquerque Airport.

Pemandangan berbeda saat tiba di Bandara Albuquerque, tulisan dan penunjuk arah selain ditulis berbahasa Inggris juga bahasa Spanyol. Termasuk informasi bandara juga ada bahasa Spanyol. Dari Albuquerque Airport kami kemudian menggunakan mobil van menuju Santa Fe.

Di lobi hotel empat peserta IVLP Environmental Protection and Biodiversity Conservation: Forest Fires masing-masing Kepala Seksi Mitigasi Struktur Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Firza Ghozalba; Kepala Seksi Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Johny Santoso; Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Riau Adriansyah Usman, saya (wartawan Tribun Pontianak) serta dua pendamping, Shawn Callanan dan Irawan Nugroho, sudah ditunggu Tom McDermott.

Dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih, Tom McDermott, memperkenalkan diri dan menyambut kami serta memberi penjelasan singkat. "Selamat datang di New Mexico dan terutama kota Santa Fe. Ini adalah kota yang unik karena letaknya paling tinggi dbandingkan negara bagian lain di Amerika Serikat. Tingginya 7.100 feet atau setara dengan 2.164 meter di atas permukaan laut," kata Tom McDermott.

Tom mengingatkan agar kami selalu sarapan, minum air putih dan air soda yang banyak serta selalu membawa bekal air minum. "Hindari minum alkohol yang berlebihan, karena di ketinggian oksigen tipis kawan-kawan susah bernafas," kata Tom.

Tom sangat fasih berbahasa Indonesia ternyata ia saat mudanya sudah sering bolak-balik ke Indonesia. Ia bahkan pernah mengunjungi Putussibau, di Kapuas Hulu tahun 1971. "Saya ke Putussibau pakai kapal kelotok lewat Sungai Kapuas berhari- hari sekitar tahun 1971. Saat itu saya masih bekerja di UNICEF, satu lembaga PBB," kata Tom, yang kini sudah pensiun.

Ketika tahu saya berasal dari Kalimantan, Tom terlihat sangat antusiasme. Apalagi ia pernah mengunjungi Kapuas Hulu, bahkan sebelum saya lahir.

Di New Mexico kami fokus melihat bekas kebakaran hutan Las Conchas yang terjadi tahun 2011 silam. Ini adalah kebakaran lahan terbesar yang mengubah sejumlah vegetasi hutan di wilayah tersebut. "Las Conchas adalah kebakaran hutan terbesar dalam sejarah New Mexico, diperkirakan ada 60.703 hektare hutan hangus terbakar," kata Tom sambil menyerahkan buku panduan, round down acara, serta berkas yang lainnya.

Di dalam berkas tersebut ada ada ucapan selamat datang ke New Mexico, paparan singkat, kondisi kota, alamat tempat wisata, serta alamat restoran dalam bahasa Indonesia. Sepanjang kunjungan kami ke Amerika Serikat baru kali ini lah saya menemukan berkas yang sudah diketik dalam bahasa Indonesia. Saya yakin Tom McDermott menyediakan waktu dan tenaga menerjemahkannya untuk kami.

Selain mengunjungi bekas kebakaran di Las Conchas kami juga mengunjungi East Jemez Interagency Fire Center yang merupakan kantor bersama untuk menghadapi jika terjadi kebakaran besar. Kemudian kami dijadwalkan akan mengunjungi National Parks Southwest Regional Office, berdiskusi dengan dosen dan peneliti di University of New Mexico's. Kami akan berdiskusi dengan Center for Water and the Environment serta Earth Data Analysis Center (EDAC).

Tak kalah menariknya kami akan mengunjungi Redfish (Simtable) Group Office untuk bertemu dengan satu di antara penelitinya Dr Stephen Guerin. Simtable adalah semacam simulasi menggunakan bubuk kayu untuk merencanakan penanggulangan bencana, mengukur kecepatan dan arah angin, serta menggerakkan personil pemadam kebakaran.

Memperhatikan sejenak bangunan-bangunan di New Mexico agak berbeda dengan bangunan lain di negara bagian lain. Di sana bangunan dibangun menggunakan semacam bata tanah liat, uniknya bangunan-bangunan tersebut tak memiliki sudut lancip namun cenderung bundar. "Masyarakat Indian percaya hantu tak mau menghuni bangunan yang sudutnya bundar," kata Tom McDermott.

Esoknya, sekitar pukul 8.45 kami sudah naik mobil van menuju Los Alamos. Kami akan mengunjungi Los Alamos Labs soal kebakaran dan bencana. Kawasan ini memiliki tradisi panjang riset dan teknologi. "Bahkan bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima di Jepang risetnya dilakukan di Los Alamos," sambung Shawn Callanan, pendampung kami yang pernah kuliah di Institut Seni Yogyakarta (ISI) serta di Manado tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved