Tribun Explore Kalbar

Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Toa Pek Kong Tertua dan Bersejarah di Singkawang

Vihara ini menjadi ikon Kota Singkawang, karena diperkirakan telah ada sejak lebih dari 200 tahun silam.

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Bagi warga Tionghoa yang datang ke Singkawang untuk beribadah tak lengkap jika tak beribadah ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang terletak di Pusat Kota Singkawang, Sabtu (20/2/2016). Vihara tertua di Kota Singkawang ini juga kerap dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati keindahan Kota Seribu Kelenteng tersebut. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINGKAWANG - Vihara Tri Dharma Bumi Raya merupakan Toa Pek Kong tertua dan bersejarah di Singkawang. Tak sulit bagi anda untuk menemukannya, karena berada di tempat yang strategis di pusat kota, tepatnya di Jl Sejahtera, Singkawang.

Vihara ini menjadi ikon Kota Singkawang, karena diperkirakan telah ada sejak lebih dari 200 tahun silam. Vihara ini, selain sebagai tempat ibadah, juga kerap menjadi pusat perayaan Cap Go Meh, yang jatuh pada hari ke-15 setelah tahun baru Imlek.

Vihara ini dipercaya sebagai tempat tinggal Dewa Bumi Raya yang menjadi penjaga Kota Singkawang. Untuk itu, setiap Juni, di vihara ini juga digelar perayaan ulang tahun Dewa Bumi Raya.

Suasana magis dan sakral mulai terasa, saat anda memasuki Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Bentuk dan struktur dinding kayu penyangganya, menyiratkan konstruksi bangunan yang cukup berusia.

Di dalam vihara ini terdapat tiga patung Pek Kong yang terbuat dari kayu. Kabarnya, patung-patung ini berusia di atas 100 tahun, dan di datangkan langsung dari Cina.

Dalam sejarahnya, pada tahun 1936 vihara ini pernah terbakar, sehingga bangunannya kini merupakan bangunan renovasi, namun tidak mengurangi nilai historisnya.

Bangunan kelenteng ini, termasuk dalam Heritage Building, yang wajib dilindungi karena memiliki nilai sejarah.

Jalan-jalan ke Singkawang yang berjulukan Kota Seribu Kelenteng, anda akan merasa tak lengkap jika tak berkunjung ke Vihara Tri Dharma.

Kota yang terletak sekitar 166 kilometer dari Bandara Supadio Pontianak ini, merupakan sebuah kota di Kalbar, yang terkenal sebagai kawasan pecinan. Yang dikelilingi pegunungan dan laut, di antaranya Gunung Pasi, Gunung Poteng dan Gunung Sakok.

Mayoritas penduduk di kota ini adalah orang Hakka (42 persen), selebihnya orang Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya.

Penamaan Kota Singkawang sendiri, berasal dari bahasa Hakka, yakni San Keuw Jong, yang berarti kota di antara gunung dan laut.

Secara umum, berdasarkan data sensus Tahun 1998, populasi warga etnis Tionghoa di kota ini mencapai 42 persen penduduk kota.

Kedatangan warga etnis Tionghoa dan kemudian menetap di Singkawang pada masa Kesultanan Sambas. Kala itu, Singkawang masih berstatus desa di bawah administratif Kesultanan Sambas, yang menjadi tempat persinggahan para penambang emas di daerah Monterado.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved