Mengenal Lebih Dekat Mahasiswa Pandai yang Menemukan Air di Mars ini
Penelitian ini ia mulai sejak lima tahun yang lalu dan menambahkan bukti adanya tanda-tanda kehidupan di Planet Merah.
Aliran ini meninggalkan warna gelap memanjang sebelum mengering pada saat suhu di planet ini menurun drastis.
"Hasil dari penelitian terbaru ini adalah terlihatnya permukaan lapisan yang menunjukkan perbedaan warna," jelas Lujendra.
"Kami melihat adanya cahaya yang nampak dan cahaya infra merah, berdasarkan perbedaan material yang menyerap cahaya, kita bisa membandingkan data laboratorium dan menyimpulkan material apa yang terkandung di dalam lapisan tersebut."
"Baru Sedikit Informasi"

Lapisan tebing dengan ketinggian ratusan meter.
Dengan menggunakan instrumen dari NASA yang disebut Crism, Lujendra dan timnya menyimpulkan bahwa "lapisan" tersebut mengandung garam.

Berita tentang Luju mulai tersebar sejak Senin lalu.
"NASA melakukan konferensi pers yang menyebutkan 'misteri telah terpecahkan' namun menurut saya kita baru mengetahui sedikit informasi," pikir Lujendra.
Material garam ini bisa menurunkan titik beku air hingga 80C dan tingkat vaporasinya hingga faktor 10.

Garis kehitaman ini dipercaya NASA sebagai air yang mengalir.
Hal ini memungkinkan air untuk mengalir lebih lama pada tebing dan dinding kawah di Mars.
Penemuan ini membuat para peneliti dan pengamat luar angkasa sangat bersemangat.

Warga Nepal turut bangga atas prestasi Luju.
"Kita harus mengetahui dari mana air itu datang. Pertanyaan selanjutnya adalah 'berapa banyak air yang berada di sana?'." (BBC Indonesia)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/lujendra-ojha_20151003_093549.jpg)