Liputan Khusus

Tambang Langka di Sadaniang, Dewan Minta Izin Selektif

Tim ahli dari luar negeri telah mengambil sampel di empat titik di Sadaniang untuk memastikan kandungan Mo. Lokasinya di Desa Pentek, Desa Bunbun.

Tayang:
Editor: Mirna Tribun
Wikipedia
Ilustrasi molibdenum. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,MEMPAWAH - Informasi potensi kandungan bahan tambang jenis Molibdenum (Mo) di Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, mendapat perhatian dari kalangan anggota DPRD dan DPR RI.

Para politisi itu meminta agar daerah selektif memberikan izin kepada investor yang berniat melakukan eksplorasi bahan tambang langka tersebut. "Bagi negara luar, mau mengelola bahan tersebut di Kalbar, harus tetap mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan pemerinta. Baik di provinsi maupun kabupaten," kata anggota DPRD Kalbar, Mulyadi Tawik, kepada Tribun, Minggu kemarin.

Seperti diberitakan, Sabtu (29/5/2015), potensi Mo diungkap Kabid Pertambangan dan Energi, Disperindagkoptamben Mempawah, Ya'Helmizar.

Ia mengatakan, tim ahli dari luar negeri telah mengambil sampel di empat titik di Sadaniang untuk memastikan kandungan Mo. Lokasinya di Desa Pentek, Desa Bunbun.

Tambang Mo menurutnya merupakan bahan tambang langka. Hanya ada di empat negara di dunia, Amerika, Chili, Kanada, dan Rusia. Mo bisa dijadikan bahan dasar pembuatan pesawat antariksa karena tahan panas.

Kandungan Mo di Sadaniang ini menurut Mulyadi menunjukkan potensi sumber daya alam (SDA) Kalbar yang sangat banyak. "Kita sangat bersyukur. Ini harus dikelola dengan baik oleh pemerintah. Dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat setempat," ujarnya.

Ketua DPW PKB Kalbar ini meminta pemerintah selektif memberikan perizinan dan sebagainya kepada negara-negara yang mau mengeksplorasi Mo. "Kita takut ketika diberikan izin, malah perusahaan tersebut tidak mengelola dengan baik. Untuk kesejahteraan masyarakat, dan tidak memberikan keuntungan bagi pemerintah daerah sendiri," tuturnya.

Menurutnya, pemprov dan pemkab harus mengawal jika ada investor luar yang mau mengelola bahan tambang ini. "Kawalah sebaik mungkin, dan gunakan keuntangannya untuk masyarakat bukan orang pribadi," pintanya.

Wakil Ketua DPRD Mempawah, Rajuini, menambahkan pemerintah pusat juga harus ikut menangani potensi tambang di Sadaniang ini. Tujuannya agar maksimal untuk daerah.

"Dengan potensinya yang langka, tentu menjadi incaran negara-negara luar. Makanya, kita minta pemerintah pusat secepatnya bergerak melakukan penelitian lebih lanjut. Jangan sampai potensi yang besar ini, justru digarap negara luar," pinta Rajuini.
Libatkan Warga

Politisi Demokrat itu mengimbau pengelolaannya harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan masyarakat sekitar. "Jangan sampai, penambangan justru menimbulkan kerusakan dan ketidakseimbangan alam, hingga menyebabkan kerusakan," paparnya.

Ia meminta potensi tambang langka ini perlu didukung pemerintah daerah, semua pihak, termasuk masyarakat. "Potensi tambang seperti ini sangat langka sekali, makanya perlu mendapat tindak lanjut yang jelas. Pemerintah perlu segera membentuk tim untuk merancang pelaksanaan penggarapannya dengan tim berkompeten di bidangnya," ujarnya.

Anggota DPRD Mempawah Dapil Sadaniang, Amon Amed, menegaskan sejak lama, potensi tambang di Sadiang menjadi incaran banyak investor dan perusahaan. Masyarakat juga tidak terlalu membuka peluang tersebut, selama dampaknya tidak berimbas ke daerah dan masyarakat setempat.

"Dulu juga pernah ada penolakan terhadap perusahaan tambang yang sempat ingin masuk ke Sadaniang. Namun tetap mengacu pada undang undang bahwa apa yang terkandung di tanah, air dan udara dikuasai negara dan digunakan untuk kesejahteraan warga. Tinggal lakukan langkah terbaik saja dengan tidak mengabaikan kemauan masyarakat," kata Amon. 

Misalnya, lakukan sosialisasi maksimal dan pengerjaannya melibatkan masarakat lokal. "Masyrakat lokal harus punya saham. Paling tidak lokasi. Perhatikan situs budaya seperti keramat wakaf dan lain-lain. Tidak mendatangkan tenaga luar, kecuali ahlinya. Menyekolahkan anak berprestasi sesuai tingkatan jenjang dan kejuruan," imbuhnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved