Menelusuri Jejak Aset PT BIG

Siswa Bawa Uang Jajan Rp 50 Ribu

"Saya ada dokumentasinya. Saya buat dalam video compact disc (VCD) seperti film. Terutama terhadap aksi yang kita lakukan

Penulis: Subandi | Editor: Arief
TRIBUN PONTIANAK/SUBANDI
Ketua BPD Desa Sungai Melayu Baru, Darsono, menunjukkan kebun di wilayah PT BIG yang sudah tak terurus, Selasa (13/1/2015). 

"Kalau untuk yang kuliah itu banyak anak-anak di sini tak bisa lanjut. Anak saya saja sempat nunda satu tahun saat hendak kuliah pas PT BIG stop. Kita di sini waktu itu, untuk makan saja kalang kabut. Apalagi untuk kuliah," tegas Sumarna.

Seorang warga, Abukhaira (37), petani sawit PT BIG mengaku ingin segera mendapatkan kepastian mengenai keberadaan sertifikat yang masih dikuasai Budiono Tan. "Selain itu, kami ingin kebun-kebun sawit milik Budiono Tan agar segera diambil alih investor lain," kata Abukhaira.

Selama kebun tutup, untuk menyambung hidup, petani plasma PT BIG harus menjual hasil kebunnya ke Kalteng. Upaya ini menempuh waktu berhari-hari. Mereka mengupayakan kendaraan sendiri yang biaya sewanya dipotong dari hasil penjualan sawit di Kalteng.

Belakangan, PT Sinar Mas yang sudah buka di dekat areal konsesi sawit milik PT BIG mau menerima buah tandan segar petani. Sayangnya, harganya mengikuti usia panen kebun mereka. "Sehingga harganya lebih murah dua ratus rupiah" ujarnya.

Tak hanya Sinar Mas, PT Limpa Sejahtera juga bersedia menerima buah sawit petani, namun harganya juga jauh lebih murah. Kendalanya saat ini adalah jalan di perusahaan tersebut sudah sangat rusak sehingga menyulitkan petani untuk mengangkut hasil sawit.

"Karena tidak ada perawatan oleh perusahaan. Maka, jalan dan jembatan rusak. Saat ini kita perbaiki seadanya dengan para petani lainnya. Biayanya ditanggung sama-sama," ujarnya.

Warga Sui Kelik Kecamatan Tayap, Ketapang ini mengatakan, jika sudah ada investor yang mengambil alih, kemungkinan masalah tersebut bisa diatasi. Abu bergabung dengan PT BIG pada 2000 karena tergiur hasil sawit yang dijanjikan dapat mensejahterakan hidupnya. Luasnya dua setengah hektare. "Dua hektare lahan plasma. Setengah hektar lahan pekarangan," ujar transmigran tersebut. Dia juga mengupayakan berkebun karet untuk menambah kebutuhan hidupnya. (bersambung)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved