Menelusuri Jejak Aset PT BIG

Siswa Bawa Uang Jajan Rp 50 Ribu

"Saya ada dokumentasinya. Saya buat dalam video compact disc (VCD) seperti film. Terutama terhadap aksi yang kita lakukan

Penulis: Subandi | Editor: Arief
TRIBUN PONTIANAK/SUBANDI
Ketua BPD Desa Sungai Melayu Baru, Darsono, menunjukkan kebun di wilayah PT BIG yang sudah tak terurus, Selasa (13/1/2015). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sejak bermasalah, akhirnya aktivitas PT Benua Indah Group (BIG) di Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Ketapang, berhenti pada awal 2009. Dampaknya, ternyata cukup besar bagi masyarakat setempat, yang mayoritas petani sawit.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Sungai Melayu Baru, Darsono, merasakan sendiri bagaimana berbagai persoalan mendera para petani pasca penutupan PT BIG. Ia mengaku pernah menjadi korban intimidasi.

Ia memang menyediakan rumahnya untuk pertemuan bersama beberapa kepala desa awal 2009. Rapat tersebut untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat. Setelah itu, berlanjut ke aksi demonstrasi dan lainnya.

Darsono menuturkan masalah PT BIG muncul ketika tidak lagi beroperasi dan tandan buah segar (TBS) masyarakat tak terbayar. Berbagai ativitas sejak penutupan pabrik itu, Darsono mengaku punya dokumentasinya.

"Saya ada dokumentasinya. Saya buat dalam video compact disc (VCD) seperti film. Terutama terhadap aksi yang kita lakukan. Di antaranya, berisi saat rapat, demo, dan lain sebagainya," kata Darsono kepada Tribun, Selasa (13/1/2015).

Karena aksinya tersebut, ia termasuk yang menerima intimidasi dari pihak-pihak tertentu. Saat itu, banyak warga transmigrasi yang pulang ke daerah asal akibat kasus ini. "Seperti persitiwa waktu pengamanan crude palm oil (CPO) di Negeri Baru, ada yang memukul saya," kenangnya.

Darsono bresyukur, di saat kritis itu Tuhan masih sayang kepadanya. "Kalau tidak, mungkin saya sudah tak ada. Saya juga pernah diintimidasi, diusir, diancam mau dibunuh, mau dibakar. Pernah saya kabur ke Ketapang setegah bulan. Orang sini bilang, saya jangan pulang saja," paparnya.

Tidak hanya potensi kekerasan dan kerawanan keamanan, berhentinya aktivitas PT BIG di Sungai Melayu Rayak juga berdampak secara ekonomi. Jumlah siswa miskin bertambah signifikan di MTs Al-Muhajirin, Sungai Melayu Rayak.

Ini terlihat dari jumlah murid penerima dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) di sekolah tersebut. "Sejak PT BIG berhenti operasi, terjadi peningkatan 70 persen jumlah siswa penerima BSM," kata Waka Kesiswaan MTs Al-Muhajirin, Sumarna, di ruang kerjanya.

Ia mengungkapkan saat PT BIG masih beroperasi, murid di sekolahnya serba berkecukupan. Hampir semua murid tiap hari uang jajan cukup banyak. Bahkan siswa sering membawa uang Rp 50 ribu ke sekolah.

Saat ini, sangat jarang ada murid membawa uang jajan Rp 50 ribu. "Saya ada kantin waktu PT BIG operasi, jajan murid di sini cukup banyak. Tapi pas BIG tutup kantin jadi sepi. Murid jarang jajan. Saya ngerti kondisinya. Bahkan saya sarankan bawa bekal seperti nasi untuk sarapan dari rumah saja kepada mereka," kenang Sumarna.

Dampak yang terasa di sekolahnya juga pada iuran murid kepada sekolah. Menurutnya banyak murid menunggak SPP. Padahal, saat PT BIG beroperasi, biasanya pembayaran SPP lancar. Kini, biaya untuk mengikuti ujian saja, banyak murid yang tak bayar.

Sumarna menegaskan dampak ekonomi itu tak membuat muridnya berhenti mengenyam pendidikan. Pihak sekolah tetap mempertahankan agar murid-murid tetap terus sekolah. Jika murid tak mampu, maka diminta surat keterangan tak mampu dari desa setempat.

"Kita ambil risiko. Yang tak mampu kita gratiskan, asal murid tetap sekolah. Hanya kita suruh minta surat keterangan tak mampu dari desa. Kemudian kita ambil kebijaksanaan anak-anak banyak dimasukkan untuk mendapatkan BSM. Dana BSM itulah untuk bayar biaya sekolah," jelasnya.

Karena itulah meski orangtua murid kesulitan secara ekonomi, namun tidak sampai membuat anak- anak putus sekolah. Umumnya, mereka masih bisa melanjutkan ke jenjang SMP, SMA atau Madrasan Aliyah (MA).

"Kalau untuk yang kuliah itu banyak anak-anak di sini tak bisa lanjut. Anak saya saja sempat nunda satu tahun saat hendak kuliah pas PT BIG stop. Kita di sini waktu itu, untuk makan saja kalang kabut. Apalagi untuk kuliah," tegas Sumarna.

Seorang warga, Abukhaira (37), petani sawit PT BIG mengaku ingin segera mendapatkan kepastian mengenai keberadaan sertifikat yang masih dikuasai Budiono Tan. "Selain itu, kami ingin kebun-kebun sawit milik Budiono Tan agar segera diambil alih investor lain," kata Abukhaira.

Selama kebun tutup, untuk menyambung hidup, petani plasma PT BIG harus menjual hasil kebunnya ke Kalteng. Upaya ini menempuh waktu berhari-hari. Mereka mengupayakan kendaraan sendiri yang biaya sewanya dipotong dari hasil penjualan sawit di Kalteng.

Belakangan, PT Sinar Mas yang sudah buka di dekat areal konsesi sawit milik PT BIG mau menerima buah tandan segar petani. Sayangnya, harganya mengikuti usia panen kebun mereka. "Sehingga harganya lebih murah dua ratus rupiah" ujarnya.

Tak hanya Sinar Mas, PT Limpa Sejahtera juga bersedia menerima buah sawit petani, namun harganya juga jauh lebih murah. Kendalanya saat ini adalah jalan di perusahaan tersebut sudah sangat rusak sehingga menyulitkan petani untuk mengangkut hasil sawit.

"Karena tidak ada perawatan oleh perusahaan. Maka, jalan dan jembatan rusak. Saat ini kita perbaiki seadanya dengan para petani lainnya. Biayanya ditanggung sama-sama," ujarnya.

Warga Sui Kelik Kecamatan Tayap, Ketapang ini mengatakan, jika sudah ada investor yang mengambil alih, kemungkinan masalah tersebut bisa diatasi. Abu bergabung dengan PT BIG pada 2000 karena tergiur hasil sawit yang dijanjikan dapat mensejahterakan hidupnya. Luasnya dua setengah hektare. "Dua hektare lahan plasma. Setengah hektar lahan pekarangan," ujar transmigran tersebut. Dia juga mengupayakan berkebun karet untuk menambah kebutuhan hidupnya. (bersambung)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved