Siswa Dilarang Ikut Ulangan
Ini Cara SMA Kapuas Agar Siswa Tak Mampu Dapat Beasiswa
Terus bagi orang yang tidak mampu, biasanya kami ajukan untuk mendapatkan beasiswa.
Penulis: Sahirul Hakim | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala SMP dan SMA Swasta Kapuas Pontianak, Utin Lisa Kurniawati, mengatakan, sekolah miliknya merupakan sekolah swasta, di mana sumber dananya hanya dari siswa. Sedangkan dana BOS ada batasan-batasan juga dalam penggunaannya.
Selain itu sebagian besar orangtua siswanya, adalah orangtua yang tidak mampu. "Jadi sering orangtua itu tidak bayar uang SPP, bahkan ketika ditagih sebagian tidak bayar. Itu sudah kami maklumi, di mana akhir-akhrinya dibayar juga. Itu disebabkan mereka tidak mampu," ujarnya, Selasa (9/12/2014).
Selama ini kata Utin, biasanya sekolah mengingatkan orangtua siswa sebulan sebelum pelaksanaan ulangan umum. Mereka dipanggil dan diberi surat edaran agar membereskan tunggakan. "Ada yang tiga bulan menunggak, dan sampai ada setengah tahun juga belum dibayar. Malah juga ada sampai satu tahun," ujarnya.
Menurut Utin, uang SPP di sekolahnya untuk kelas X Rp 145 ribu, kelas XI Rp 125 ribu, dan kelas XII Rp 100 ribu. SPP ini benar-benar sangat diharapkan sekolah, untuk menggaji guru. "Itupun biasanya uang pas-pasan, dan malah kurang. Saya pernah minjam ke pihak luar, untuk bayar gaji guru," tuturnya.
Ia menambahkan, untuk menghimpun dana tersebut yaitu dengan cara memanggil orangtua. Kemudian untuk mengetahui mengapa tidak bayar, maka dilihat profesi orangutanya, berapa bersaudara, domisili dan sebagainya.
"Terus bagi orang yang tidak mampu, biasanya kami ajukan untuk mendapatkan beasiswa. Setiap ada informasi tentang beasiswa, mereka semua akan dikasih. Bahkan saya pernah minta kepada teman- teman untuk carikan, orang-orang yang bisa membayarkan uang SPP bagi anak asuh," katanya.
Menurut Utin, pihaknya selalu memberikan toleransi kepada oranguta yang belum melunasi uang SPP. Misalnya ketika ulangan umum bulan Desember, dan tunggakan siswa adalah SPP Oktober, November, dan Desember, maka cukup membayar sampai bulan November saja agar siswa tersebut bisa ikut ulangan.
"Tapi tetap harus kita tahan dulu dan panggil orangtuanya, bagaimanapun kami harus ada pemasukan juga," tuturnya.
Jika dengan upaya itu masih ada satu atau dua siswa yang belum membayar tunggakan, Utin yakin kalau siswa tersebut benar-benar tidak mampu membayar. Akhirnya, pihak sekolah tetap membolehkannya mengikuti ulangan.
"Supaya tidak ada pilih kasih, kalau dari awal saya pilih kasih pasti dari awal akan protes. Tapi kalau nunggaknya sampai berpuluh-puluh sedikit berat bagi kami. Pastinya kami, tidak pernah mengeluarkan anak dari sekolah gara-gara tidak bayar uang SPP," ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, Agus sempat dilarang mengikuti ulangan umum karena ada administrasi sekolah yang belum lunas. Berkat pemberitaan di Tribunpontianak.co.id, ada donatur yang terketuk hatinya melunasi SPP Agus sehingga remaja yang tinggal bersama neneknya tersebut dapat melanjutkan pendidikannya.