Eksklusif Tribun Pontianak
Trend Pemasangan Kawat Gigi Marak di Pontianak
Kawan-kawan bilang mirip gigi kelinci. Setelah konsultasi dengan dokter, ia memutuskan pasang behel.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kehadiran behel gigi semakin marak dan mudah ditemui di setiap sudut Kota Pontianak dan sekitarnya. Tujuan pemasangan kawat gigi ini pun mulai beralih fungsi. Awalnya digunakan sebagai bagian dari terapi medis untuk merapikan bentuk gigi.
Namun perlahan-lahan menjadi tren untuk mendongkrak penampilan supaya lebih percaya diri lewat pemasangan behel "gaul" berwarna - warni. Hasil penelurusan Tribun sepekan terakhir di Pontianak, konsumen kebanyakan para ABG (Anak Baru Gede).
Pemakai behel Vincentia Melly (17), siswa kelas III, jurusan IPA SMU Santo Petrus, menuturkan mulai pasang behel sejak kelas dua SMP. Dia mengaku kurang percaya diri karena dua gigi depannya maju ke depan. Kawan-kawan bilang mirip gigi kelinci. Setelah konsultasi dengan dokter, ia memutuskan pasang behel.
Melly pasang behel di salah satu dokter gigi di Jl Zainuddin, Pontianak. Saat itu orang tuanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 15 juta. Dalam setiap bulan untuk sekedar kontrol mengganti bracket warna warni, mengganti kawat gigi juga, orangtua Melly mengeluarkan Rp 200 - 300 ribu.
Awal pasang behel, Melly mengaku hanya makan bubur 3-4 hari. Setelah itu dia bisa makan nasi, lauk pauk. Dia mengaku tidak perlu menggunakan sikat gigi khusus. Setiap konsul bisa ganti bracket warna-warni tergantung mood saja. Selain itu, tarik kawat membuat gigi lebih rata. Ditariknya gigi biasa membuat terasa sakit.
Melly tidak pernah merasa kecewa dengan dokter yang memasang behel di giginya. Dalam satu waktu pernah sekali kawat gigi tidak terpotong habis oleh dokternya. Kemudian ujung kawat melukai dinding mulut. Dia merasakan sakit. Saat itu, dokter mengaku lupa.
Melly memberikan saran kepada siapa saja yang ingin pasang behel, lebih baik konsultasi dulu dengan dokter gigi. "Jika sudah pasang behel, wajib hukumnya gosok gigi sebelum tidur. Karena keesokan harinya merasa tidak nyaman," katanya.
Seorang pekerja swasta di salah satu media lokal di Kota Pontianak, Dina (27), mengaku memasang behel kepada dokter spesialis di Kota Pontianak. Sama seperti Melly, Dina tidak berani ambil risiko terhadap kesehatan giginya jika pasang behel di tukang gigi.
"Saya pasang behel Juni 2013 lalu, di dokter spesialis gigi. Tidak berani pasang behel ke tukang gigi. Risikonya menyangkut kesehatan gigi. Karena kabarnya pemasangan dan perawatan dokter gigi tidak seperti tukang gigi," katanya.
Dina pasang behel ke dokter gigi pun setelah mendapat saran dari sepupu. "Gigi saya timpa-timpa dengan gigi yang lain. Kurang bagus. Saya dapat kabar pasang saja di dokter gigi supaya komponen gigi lebih aman di dokter gigi," tuturnya.
Dina tahu risiko finansial bila pasang behel di dokter gigi. "Waktu itu saya bayar sampai Rp 6 juta. Perawatan gigi setiap bulan sebesar Rp 150 ribu. Ada behel harganya puluhan juta seperti yang dipakai artis-artis. Jenis gigi yang dipakai standar tinggi itu tidak kelihatan, lebih putih dan halus warnanya," kata Dina.
Menurutnya, dia cukup memasang behel standar saja, terdiri dari kawat untuk mengencangkan gigi dan karet. "Pakai behel juga membuat saya percaya diri kalau ketemu kawan-kawan," ujarnya.
Seorang pemakai behel lainnya, Herlin (27) yang berprofesi sebagai Guru Kimia SMA Santo Petrus Pontianak mengatakan ia pakai behel sejak awal 2004. Alasan memakai behel, pada akhir 2003 mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda motor di Jl Taman Siswa, Yogyakarta.Akibat kecelakaan tersebut, gerahamnya berubah bentuk.
Setelah konsultasi dengan dokter, maka disarankan untuk pasang behel agar memperbaiki kondisi geraham kembali normal. Waktu itu harga yang ditawarkan Rp 6 juta. Selain pasang, Herlin mengeluarkan Rp 2 juta untuk operasi. Dia tidak mengalami efek buruk usai pasang behel tersebut.
Pemakai behel lainnya yang pasang melalui dokter gigi, Lisa Agusti mengatakan, ia menggunakan kawat gigi yang memang difokuskan untuk perawatan struktur giginya yang dianggapnya tidak rata. "Pasangnya kemarin sekitar Rp 6 juta di tempat dokter gigi, sekitar 4 bulan yang lalu saya pasang," katanya.
Lisa menuturkan kawat gigi yang dipasangnya berbeda dengan kawat gigi fashion. Perawatan usai pemasangan juga dilakukan rutin. Untuk sakit yang terasa di gigi memang ada, namun itu tak terlalu lama.