Jejak DJ Bawah Tanah Pontianak, Tak Menyerah Dihujat
Dari depan meja, kabel-kabel mulai berjuntaian, beberapa orang sibuk mengatur.
Penulis: | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Puluhan pemuda dan pemudi berbaju hitam terlihat berdiri menunggu di depan sebuah meja ukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter di tepi jalan Ahmad Yani Pontianak yang ramai, belum lama ini.
Cahaya temaram dari satu lampu terlihat menyinari mereka. Lampu tersebut didirikan hampir di atas meja berwarna biru berbahan plastik, menyinari ke arah ramainya massa. Meja itu sendiri berdiri di atas paving block. Tak ada pangung, semua berdiri sejajar.
Beberapa pemuda terlihat lelah dan berkeringat setelah sebelumnya sebuah band hardcore Pontianak menghentak mereka dari atas panggung sederhana yang berhadapan dengan meja tersebut.
Dari depan meja, kabel-kabel mulai berjuntaian, beberapa orang sibuk mengatur. Kabel mulai terhubung dari dua buah laptop yang terpasang dengan dua DJ set nya. Soundman pun mulai mencoba volume sound out yang akan digeber. Penonton mulai tak sabar, sembari masih memerhatikan orang yang sibuk mengatur aplikasi laptop di belakang meja.
Satu di antara yang sibuk adalah Reza Prabudiana (24) atau yang lebih dikenal dengan DJ Dubsuck. Tangannya masih sibuk mengatur laptop agar sinkron dengan DJ set miliknya, tak lupa sesekali ia membetulkan letak headset di kepala untuk megontrol musik yang akan dia mainkan.
"Mulai main DJ di Pontianak sekitar tahun 2010, sama di acara kecil seperti ini," ujar Reza.
Tak lama, irama dubstep menghentak dari sound. Seperti otomatis, gelombang dansa langsung terlihat dari pemuda-pemuda berbaju hitam tersebut. Pemandangan jarang di Kota Khatulistiwa ini, di mana musik dengan beat seperti ini biasanya dimainkan di sebuah pub atau club, walau dengan genre berbeda.
Pemuda berbaju hitam bersablon band musik keras juga seperti tersihir, bergoyang seiring irama musik elektronik yang kabarnya lahir di sudut kota London Utara, Inggris tersebut. Mereka bahkan seperti tak perduli dengan stereotip musik seperti ini yang dicap seperti dunia gemerlap.
"Pertama bawain dubstep, orang-orang pada ndak ngerti, mereka pikir ini musik dari kaset rusak, ndak ada yang ngedance di depan panggung," ucap Dubsuck yang belajar DJ di sebuah kursusan ternama Yogyakarta.
Jejak DJ "bawah tanah" Pontianak untuk mengenalkan musik ini tak gampang. Banyak tanggapan, bahkan hujatan mereka terima. "Mengenalkan dubstep itu seperti merangkak" kata Reza.
Menurut Reza, di masa awal dia memainkan musik ini, tidak ada yang menonton. Tapi ia tak menyerah. "Dari tak ada yang menonton, sampai ada yang cuma berdiri di depan, sampailah ada yang bergoyang," tambah Reza sambil tersenyum.