Sinopsis Buku

Intrik Politik Negeri di Ujung Tanduk

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan

Penulis: Leo Prima | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK, PONTIANAK - Di Negeri di Ujung Tanduk, kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Negeri di Ujung Tanduk adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah karya Tere Liye. Jika buku sebelumnya Tere Liye membahas borok kapitalisme, kali ini ia mengupas kebobrokan demokrasi. Alur bergerak cepat, setting waktu dua hari. Penuh aksi dan intrik politik. Kejar-kejaran, tembak-tembakan, pukul-pukulan, bakar-bakaran. Intensitasnya terjaga, setiap halaman mengandung tensi tersendiri. Naik turunnya suasana juga pas, tidak ada fase datar terlalu lama.

Penyelesaiannya, meski cukup heroik, terasa tak lebih dari sekedar keberuntungan. Thomas berusaha mengakhiri konflik sendirian, tapi banyak bala bantuan berdatangan. Kepedulian. Ya, kepedulian. Mungkin itu maksudnya. Negeri ini rusak, bukan karena mental penduduknya bobrok, melainkan karena banyak dari kami, yang tidak peduli lagi. 

Judul : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tebal : 360 halaman
Dimensi : 13,5x20 cm
Kategori : Fiksi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Jusuf Kalla Memberi Solusi

 

Kisah Artis Kelahiran Pontianak

 

Butet Sosok Kartini Masa Kini

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved