Sutiyah Khawatir Serangan Hama

Pada panen kali ini, Sutiyah khawatir jumlah produksi gabah menurun dibanding tahun sebelumnya.

Tayang:
Penulis: Zulkifli |

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Petani padi di Kabupaten Kubu Raya tepatnya di kawasan Jl Jendral Ahmad Yani II memulai panen. Sutiyah (33), menjadi satu di antara petani yang memanen hasil tanamnya, Jumat (25/1).

Pada panen kali ini, Sutiyah khawatir jumlah produksi gabah menurun dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, sebagian tanaman padinya terserang berbagai hama.

"Kita sudah mulai sekitar empat hari yang lalu, karena sudah masuk bulan panenya. Namun, tahun ini hama lebih banyak dari panen tahun lalu," papar Sutiyah kepada Tribun.

Perempuan ini tak dapat berbuat banyak. "Tahun ini hama tikus dan ulat banyak. Padahal, sebelumnya sudah kita lakukan pencegahan dengan menyemprot dua sampai tiga kali, namun masih ada juga. Kita menyebutnya ulat pasak. Padinya jadi kering tidak berisi," lanjut Sutiyah yang mengaku sudah dua tahun menggarap sawah di wilayah ini.

Tahun lalu, ia menanam padi di lahan seluas setengah hektare dengan hasil satu ton gabah kering. Sekarang dia pesimis hasil yang sama dicapai.

"Luas sawahnya sekitar 25 anggar. Satu anggarnyakan 10 depak, jadi kurang lebih setengah hektare. Kalau tahun lalu sekitar satu ton kita dapat, kalau sekarang mungkin tidak sampai," ujar Sutiyah

Warga Parit Haji Muksin ini menuturkan, ada dua jenis padi yang ia tanami yaitu padi yang siap panen empat bulan dan jenis padi lima bulan. Dia sengaja memilih keduanya agar panen dilakukan dua kali dalam setahun.

"Kalau padinya siap panen semua, biasanya dalam sepuluh hari kita sudah selesai panen. Kadang-kadang juga dibantu teman-teman," paparnya.

Padi yang ia tanam menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarganya. Lahan sawah yang ia garap bersama sang suami merupakah sewaan.

"Satu tahun kita bayar Rp 600 ribu. Alhamdulillah dari hasil penjualanya dapat juga untuk biayakan tiga anak yang masih sekolah,'' ungkapnya.

Kekhawatiran sama juga disampaikan Andi (44), petani lainnya. Dia sudah mulai memanen padi sejak beberapa hari lalu. Pada panen ini, dia juga khawatir akibat hama.

"Kalau waktu panen begini paling kita khawatirkan hama Blas Leher. Padinya kering, tidak berisi," ujar warga Parit Tengkorak ini.

Dijelaskannya, lahan seluas dua hektare yang ia garap dapat menghasilkan 6 ton gabah kering. Setahun dia bisa melakukan dua kali panen.

"Lahan garapan kita ada beberapa tempat. Di sini sekitar satu hektare, namun ada beberapa yang tidak kita bisa panen akibat banjir tiga bulan. Banjirnya setinggi pinggang orang dewasa. Jadi, padinya tidak berbuah," papar Andi.

Sejumlah antisipasi telah ia lakukan, terutama pada saat musim tanam. Berbagai pupuk dan racun hama yang ia dapat dari pemerintah kabupaten digunakan. "Kalau musim tanam, hama seperti keong. Pupuk Alhamdulillah lancar," paparnya.

Sementara itu, Kabid Teknologi dan Perlindungan Tanaman Distanak Kubu Raya Hasrul mengimbau para petani melaporkan sekecil apapun serangan hama terutama kepada pengamat hama di lingkungan kecamatanya agar cepat ditangani.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved