Harga Tiket Selangit, Eddy Suratman: Saya Dua Kali Terbang Harga Tiket Rp4,5 Juta
saya tidak dapat tiket normal ya akhirnya dua kali pulang dengan harga tiket Rp4,5 juta sekali terbang
Penulis: Syahroni | Editor: Tri Pandito Wibowo
Harga Tiket Selangit, Eddy Suratman: Saya Dua Kali Terbang Harga Tiket Rp4,5 Juta
Harga tiket angkutan udara di Kota Pontianak masih cukup tinggi. Disisi lain terjadi penurunan jumlah wisatawan dan penurunan omset pelaku UMKM lantaran kebijakan penghapusan bagasi. Bagaimana pendapat Pengamat Ekonomi Untan. Berikut news analisis Prof Eddy Suratman.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Saya kira penurunan wisatawan yang terjadi memang karena harga tiket mahal, satu diantara faktornya. Bukan lagi mahal menurut saya, tapi sangat-sangat mahal beberapa waktu belakangan ini.
Saya dua kali kena dari Jakarta itu, saya tidak dapat tiket normalnya akhirnya dua kali pulang dengan harga tiket Rp4,5 juta sekali terbang.
Saya harus naik di kelas bisnis, yang bukan kelas saya, duduknyapun saya tidak nyaman, karena semua orang kaya disitu.
Itu saya rasa harga tiket sangat mahal dan saat itu pula, saya mencoba mencari tiket pesawat lain non Garuda, angka harga tiketnya juga diatas Rp2 juta.
Inilah yang membuat orang menunda kedatangannya di Pontianak dalam rangka Cap Go Meh 2019.
Baca: Wisatawan Menurun Saat Cap Go Meh di Pontianak, Herman Hofi: Warning Bagi Pemerintah
Baca: PHRI Kalbar Catat Penurunan Wisatawan, Yuliardi: Tamu Tak Belanja Sovenir Karena Penghapusan Bagasi
Pilihan tiket murah, sudah tidak ada. Apalagi sekarang ini Sriwiyaya sudah gabung dengan Garuda, otomatis harga telah menyesuaikan.
Jadi pilihan harga tiket murah itu memang Lion Air, sementara mereka mengenakan bagasi berbayar.
Nah dengan adanya bagasi berbayar itu, tentunya para penumpangnya harus mengurangi bawaan dan maksimum 7 Kg.
Saya kira itulah sebab orang enggan berbelanja saat mengunjungi Pontianak. Saat datang pun dia pasti mengurangi belanja karena tidak mau dikenakan biaya yang lebih mahal dari harga barangnya.
Akibatnya wisatawan tidak mau berbelanja otomatis UMKM kita terganggu, jualan mereka tidak laku.
Saya melihat kebijakan ini mempunyai efek besar dan menyakitkan terhadap UMKM, serta target kunjungan wisatawan.
Apabila dilihat secara ekonimo makro, memang tidak terlalu terasa dan tidak besar. Pengaruh pertumbuhan ekonomi kita itu, sebetulnya didorong oleh konsumsi masyarakat, komsumsi rumah tangga orang Kalbar.
Tetapi untuk kesinambungan perekonomian kita yang sustainable, itu harusnya mengandalkan pada sektor wisata.
Penyebab turunnya wisatawan juga, karena Kalbar tidak mempunyai alternatif transportasi selain pesawat terbang.
Dulu waktu saya masih muda, masih ada exspress dari Pontianak-Jakarta sekitar 9 jam, saat ini tidak adalagi.
Kita mau naik kapal yang besar itu, tidak jelas kapan sampainya dan berangkatnya juga hari-hari tertentu saja.