PHRI Kalbar Catat Penurunan Wisatawan, Yuliardi: Tamu Tak Belanja Sovenir Karena Penghapusan Bagasi

Sangat signifikan penurunan wisatawan pada Cap Go Meh kali ini, sekitar 15-17 persen penurunannya dibandingkan dengan periode yang sama

PHRI Kalbar Catat Penurunan Wisatawan, Yuliardi: Tamu Tak Belanja Sovenir Karena Penghapusan Bagasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Barat, Yuliardi Qamal. 

PHRI Kalbar Catat Penurunan Wisatawan, Yuliardi: Tamu Tak Belanja Sovenir Karena Penghapusan Bagasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pelaksanaan perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak 2019 telah usai sejak 19 Februari lalu, namun dari sisi pariwisata dan perhotelan kegiatan yang setiap tahunnya mampu mendatangkan ribuan wisatawan dari luar negeri maupun wisatawan nasional, kali ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Barat, Yukiardi Qamal menjelaskan bahwa dibandingkan dengan periode yang sama saat pelaksnaan CGM 2018 lalu, tahun ini tidaklah seramai tahun sebelumnya.

Kunjungan masyarakat luar di Kalbar diketahuinya menurun dari penurunan pemesanan dan keterisian kamar hotel-hotel yang ada di Pontianak.

"Sangat signifikan penurunan wisatawan pada Cap Go Meh kali ini, sekitar 15-17 persen penurunannya dibandingkan dengan periode yang sama saat Cap Go Meh 2018 lalu," ucap Yuliardi Qamal saat diwawancarai, Jumat (22/2/2019).

Baca: Perbandingan Jumlah Pengunjung Cap Go Meh di Pontianak, PHRI Kalbar: Turun 15-17 Persen

Baca: Pengusaha PHRI Tepuk Tangan Jokowi Batalkan Wacana Pelarangan Rapat APBD di Hotel

Baca: Insiden Tergelincirnya Lion Air Pengaruhi Tingkat Isian Hotel di Pontianak Pada Momen Cap Go Meh

Menurunnya tingkat kunjungan tersebut, lantaran mahalnya harga tiket penerbangan. Karena di Kalbar transportasi yang mudah digunakan hanya pesawat, sedangkan kapal laut disebutnya sangat lama dan hanya beberapa kali berangkat dalam seminggu.

Lanjut disampaikannya, bahwa melambungnya tiket pesawat sangat mempengaruhi kunjungan wisatawan di Pontianak dan Kalbar pada umumnya. Bahkan menurut Yuliardi Qamal, mahalnya tiket pesawat sudah terjadi jauh sebelum perayaan CGM.

"Turunnya angka kunjungan wisatawan karena di Pontianak pembandingnya itu tidak ada angkutan lain selain pesawat. Tidak bisa di bandingkan dengan kereta api, karena kereta api daerah kita tidak punya, yang ada pembandingnya hanya kapal laut tapi kapal tidak berangkat setiap hari dan perlu waktu lama," jelas Yuliardi.

Hanya pesawatlah menurutnya sebagai transportasi untuk mobilitas warga yang efektif ke Kalbar sajauh ini, maka dengan adanya kenaikan tiket yang terlalu mahal memberikan dampak siqnifikan.

Perayaan CGM yang meriah disampaikannya tak cukup untuk menarik wisatawan datang di Pontianak, apabila tidak ditunjang dengan biaya yang terjangkau untuk datang.

Halaman
12
Penulis: Syahroni
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved