Internasional

Tak Dapat Perawatan Memadai, Bayi Berkepala Dua di Yaman Meninggal

Bayi kembar siam berkepala dua yang ada di Yaman dilaporkan meninggal, setelah tidak mendapat perawatan memadai.

Tak Dapat Perawatan Memadai, Bayi Berkepala Dua di Yaman Meninggal
AFP/MOHAMMED HUWAIS
Bayi siam berjenis kelamin laki-laki, Abdel Khaleq dan Abdel Karim, berada di inkubator di rumah sakit di Sanaa pada Rabu (6/2/2019). 

Tak Dapat Perawatan Memadai,  Bayi Berkepala Dua di Yaman Meninggal

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANAA — Bayi kembar siam berkepala dua yang ada di Yaman dilaporkan meninggal, setelah tidak mendapat perawatan memadai.

Dokter sudah mewanti-wanti, Abdel Khaleq dan Abdel Rahim yang berusia dua pekan tidak akan selamat dengan kondisi peralatan medis di Yaman.

Dikutip The Independent pada Minggu (10/2/2019), Khaleq dan Rahim yang dirawat di Rumah Sakit Al-Thawra Sanaa harus segera dibawa keluar.

"Mereka harus dievakuasi secepatnya. Mereka tidak akan mampu bertahan di sini," ujar Kepala Unit Neonatal Al-Thawra Dr Faisal al-Balbali.

Baca: As & Inggris Unjuk Kekuatan Alutsista Terbaiknya di Laut China Selatan, Gelar Latihan Perang Bersama

Baca: Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiuun, Kakak Raja Arab Saudi Wafat

Karena pengepungan yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi, bocah yang dempet tubuh itu hanya mendapat perawatan MRI.

Namun, upaya untuk membawa mereka keluar terganjal penutupan Bandara bagi penerbangan komersial karena wilayah udara Yaman dikuasai koalisi.

Saat ini, hanya pesawat di bawah bendera PBB yang diizinkan mendarat, dengan Bandara Sanaa merupakan faktor kunci perundingan damai di Stockholm pada Desember 2018.

Organisasi Pusat Bantuan dan Kemanusiaan Raja Salman dilansir SPA telah menawarkan untuk menangani dua anak itu, tetapi tidak ada cara melewati blokade Saudi.

Dalam pernyataan kementerian kesehatan dikutip media Houthi Saba via Telegraph, kematian Khaleq dan Rahim menggambarkan situasi kemanusiaan di Yaman.

Saat ini, Yaman hampir memasuki empat tahun masa peperangan antara Houthi yang disokong dengan koalisi Saudi sejak 2015.

Konflik yang berawal dari terjungkalnya Presiden Abd-Rabbo Mansour Hadi itu telah menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan infrastruktur.

Kolapsnya ekonomi membuat jutaan rakyat Yaman kelaparan. Perundingan yang dipimpin PBB bertujuan menghasilkan gencatan senjata bagi kedua belah pihak.

Harapannya, blokade terhadap Bandara Sanaa dan Pelabuhan Hodeidah di Laut Merah bisa diakhiri sehingga bantuan kemanusiaan dapat masuk. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Peralatan Medis Kurang Memadai, Bayi Berkepala Dua di Yaman, Khaleq dan Rahim, Meninggal

Editor: Dian Lestari
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved