Berita Video

Terbitkan 6 Buku Selama 2018, Aswandi Ingin Dikenang Setelah Wafat

Enam buku karangannya di tahun 2018 dilaunchingnya di ruang kerjanya, Gedung Rektorat Untan

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Pendidikan Universitas Tanjungpura (Untan), saat ini menjalani hari-harinya dengan kesibukan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr Aswandi masih menyempatkan dirinya untuk membuat karya tulisan yang dikemaskan dalam buku.

Tak tanggung-tanggung, meskipun disibukan dengan berbagai kegiatan dan mengajar mahasiswa, sepanjang 2018, Aswandi berhasil membuat enam buah buku yang telah diterbitkan.

Pakar Pendidikan Untan ini, menulis semua bukunya mengenai pendidikan. Selama ini ia sudah mengeluarkan 12 karangan buku dan enam darinya diselesaikan dalam satu tahun atau setiap dua bulan satu buku.

Baca: Apel Janji Kinerja Tahun 2019 di Lingkungan Kantor Wilayah KemenkumHAM Kalbar

Baca: BREAKING NEWS - Oknum ASN dan Honorer Pemkab Sekadau Ditangkap Narkoba, Polisi Sita Timbangan Sabu

Aswandi menyebutkan 12 karyanya berjudul,  Memikirkan Kembali pendidikan, Pilar Kebijakan Pendidikan, Anak dan Kita, Manajemen Perubahan, Pemimpin Bukan Manajer, Kepemimpinan Berbasis Karakter, DNA Guru Inovatif, Mencari Makna Pendidikan, Belajar Menjadi Manusia, Pendidikan dan Perubahan, Kapita Selekta Pendidikan I dan Kapita Selekta Pendidik II.

Enam buku karangannya di tahun 2018 dilaunchingnya di ruang kerjanya, Gedung Rektorat Untan, Rabu (9/1/2019).

 Setiap buku yang diterbitkannya selalu ada foto dirinya disampul, hal itu dilakukannya karena ingin memberikan cirikhas pada buku yang diterbitkannya.

Baca: Lusi: Gay di Pontianak Banyak Terjangkit HIV-AIDS

"Selain itu, karena saya ingin nanti ketika saya sudah mati saya tidak hanya ingin di tanam di kuburan seperti itu. Saya ingin juga di simpan di rak-rak buku, bahkan tidak jarang orang menyimpan di tempat tidurmya," harap Aswandi.

Itulah motivasinya, kenapa buku-buku selalu ia beri gambar. Dengan ciri khas lainny, ia memakai kopiah. Ia pasti pertahankan ini, tidak ada bukunya yang tidak bergagambar.

"Jadi intinya saya ingin menuliskan apa yang saya fikirkan. Sehingga besok anak-anak kita ketika saya wafat ingin tahu tentang siapa saya cukup membaca buku saya, karena itu yang saya fikirkan," tambah Aswandi.

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved