Tuntut Transparansi Dana Desa, Pemuda Sungai Toman Lakukan Audiensi Ke Kantor Desa.
mulai dari ketua, sekretaris, dan jajaranya, serta tidak adanya bukti nyata progja yang sudah dilakukan oleh Karang Taruna sendiri.
Citizen Reporter
Pemuda Desa Sungai Toman, Arwani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sejumlah Pemuda Desa Sungai Toman lakukan Audiensi dengan pihak perangkat Desa, guna menuntut transparansi dana Desa.
Audiensi digelar di Kantor Desa Sungai Toman, Dusun Dungun Sungai, Desa Sungai Toman, Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas, Senin (12/11/19) Siang.
Dalam audiensi tersebut, tujuh orang perwakilan pemuda itu diantaranya, Habiri, Rixsy, Arwani, Aris, Yudi, Eric, dan Umar, yang datangi Kantor Desa Sungai Toman,
Hadir juga dalam pertemuan ini, Kaur Umum, Adran dan Rafi yang mewakili pihak Desa, dikarenakan kepala desa sendiri tidak ada di tempat waktu itu.
Baca: Atraksi Bela Diri Sambut Kedatangan Daniel Johan Saat Reses di Kecamatan Galing
Perwakilan Pemuda Desa, Rixsy menjelaskan tujuan pihaknya mendatangi kantor desa, dimana untuk melakukan audiensi terkait tranparansi dana desa dan karang taruna.
"ketidak jelasan Karang Taruna yang menjadi isu pertama dalam bahasan pada audiensi ini, karena pemuda desa merasa itu adalah satu-satunya celah yang bisa dimasuki oleh pemuda dan berhak ambil peran disana, karena karang taruna adalah khusus pemuda," ujar Rixsy salah satu pemuda desa serta Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untan Pontianak.
Rixsy menuturkan bahda dirinya pernah mendengar, bahwa ada karang taruna di Desa Sungai Toman ini, tapi sampai sekarang sebagian masyarakat dan termasuk pemuda desa banyak yang tidak tahu mengenai hal tersebut.
Lanjutnya, mulai dari ketua, sekretaris, dan jajaranya, serta tidak adanya bukti nyata progja yang sudah dilakukan oleh Karang Taruna sendiri.
"Takutnya hal ini hanya permainan Desa yang tidak sehat, sengaja dibentuk untuk formalitas dan manipulasi data saja, namun kemudian untuk memudahkan pencairan dana, serta akhirnya terjadi penyimpangan, sedangkan hal ini tidak pernah sama sekali di edukasikan kepada pemuda," tegasnya.
Ia menegaskan bahwa hal ini kesannya seperti disembunyikan dan membiarkan masyarakat yang tidak tahu menjadi semakin tidak mengerti akan hal ini.
Baca: Dies Natalis Teknik Arsitektur Polnep Dimeriahkan Berbagai Agenda
"Kami datang memang seperti gelas yang betul-betul kosong, kami ingin diisi, Kami ingin pihak Desa memberdayakan kami selaku pemuda, yang tidak menutup kemungkinan kami adalah orang yang akan meneruskan estafet pemerintahan desa," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa takutnya pemuda kedepanya, apabila posisinya menjadi perangkat desa juga, hal-hal seperti ketidak jelasan ini akan membudaya kalau tidak dirubah sekarang.
Pada kesempatan yang sama Perwakilan Pemuda lainnya, Habiri menekankan bahwa Ini juga merupakan aspirasi masyarakat yang kami sampaikan.