Ketua Umum FKOB Tegaskan Robo-Robo Satu Adat Budaya Bugis Bukan Suatu Hal Yang Syirik
"Kita kan mempunyai aset wisata air yang luar biasa, dan kenapa tidak kita manfaatkan dan kita laksanakan sendiri," ucapnya.
Laporan Wartawan Tribun Pontianak David Nurfianto
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Umum FKOB, Ardiyansyah menegaskan robo-robo merupakan salah satu adat budaya bugis dan bukan suatu hal yang syirik.
"Nah di dalam acara robo-robo ini, kita menampilkan beberapa adat budaya seperti tundang, matadandang dan arak-arakan yang tadi ditampilkan, dan ini merupakan agenda yang pertama," ujarnya
Baca: FKOB Selenggarakan Festival Kebudayaan Bugis, Ini Alasannya
Baca: 400 Peserta Hadiri Sosialisasi Majelis Pesantren Indonesia yang Menggandeng Kominfo RI di Melawi
Ia menuturkan kedepannya ini akan menjadi agenda rutin setiap tahunnya untuk warga kota pontianak, karena apa selama ini warga pontianak pergi jauh, jika ingin ikut acara robo-robo misalnya kedaerah sungai kakap, Teluk pakedai, bahkan ke mempawah.
"Kita kan mempunyai aset wisata air yang luar biasa, dan kenapa tidak kita manfaatkan dan kita laksanakan sendiri," ucapnya.
Ia menambahkan walaupun persiapannya sangat singkat tetapi masyarakat cukup antusias, serta pengurus ormas juga sultan Ponrianak hadir dalam acara ini.
"Untuk diketahui bersama, di dalam adat budaya bugis robo-robo itu bukan hanya sifatnya budaya, tetapi ada nilai nilai luhurnya yang kita harus ambil misalnya tundang sepulung, manre sipulung," jelasnya.
Dimana tundang sipulung artinya duduk bersama, sedangkan manre sipulung makan bersama, ini artinya bukan hanya duduk bersama aja dan makan saja, tetapi punya nilai, sebagai ajang silaturahmi serta tempat berdiskusi menyelesaikan sesuatu masalah.
"Nilai-nilai Luhur dari mandrin sepulung, bukan hanya duduk-duduk makan saja tapi nilai-nilainya dari nenek moyang kita dulu setiap ada permasalahan di kampungnya mereka melakukan kegiatan Manre sipulung, dan tundang sipulung dalam rangka untuk memecahkannya," ungkapnya.
Ketua FKOB ini, menjelaskan bahwa memang ada beberapa kalangan masyarakat yang kurang memahami atau yang belum memahami agenda robo-robo sehingga mereka menyebutnya sebagai kesyirikan.
"Coba deh ikut, ada hal syirik kah di acara ini tadi, dimana kita baca doa Rasul, baca doa selamatan, serta baca doa tolak bala, kegiatan robo-robo itu sebenarnya apapun kegiatannya kita selalu menggunakan doa doa Rasul," tegasnya.
Lanjutnya tidak ada yang menyembah sana sini, kegiatan ini tetap berpegang kepada Allah, tidak ada istilahnya lain-lain, maka dari itu silahkan datang sendiri.
"Dan ingat agama dalam sejarahnya masuk melalui budaya, tanpa budaya agama tidak akan masuk dan robo-robo itu merupakan warisan leluhur dari alim ulama kita dulu, pendiri-pendiri kita apakah kita katakan itu sirik, tidak mungkin dan semuanya itu mempunyai nilai-nilai budaya yang utuh," pungkasnya