Marliati Menangis, Anaknya Sempat Satu Tahun Terpaksa Putus Sekolah

Namun karena kondisi ekonomi dan jarak yang jauh, saat itu anaknya yang bernama Imanuel terpaksa berhenti sampai kelas tiga.

Marliati Menangis, Anaknya Sempat Satu Tahun Terpaksa Putus Sekolah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Satu di antara orangtua siswa SDN 41 Kebangak, Marliati 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Satu di antara orangtua siswa SDN 41 Kebangak, Marliati mengaku terpaksa membiarkan anaknya putus sekolah sebelum SDN 41 Kebangak ditetapkan menjadi negeri dan membuka kelas baru.

Dikatakannya, saat masih berstatus kelas jauh dari SDN 1 Nanga Merakai, sekolah tersebut hanya untuk kelas satu sampai tiga.

Sementara jika ingin melanjutkan ke kelas empat, harus pergi ke Nanga Merakai.

SDN 1 Nanga Merakai
SDN 1 Nanga Merakai (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ WAHIDIN)

Baca: Miris! Kondisi Sekolah di Pedalaman Sintang, Tanpa Dinding dan Berlantaikan Tanah

Baca: Pemkab Sintang dan BKSDA Teken Kerjasama untuk Pengembangan Taman Wisata Bukit Kelam

Namun karena kondisi ekonomi dan jarak yang jauh, saat itu anaknya yang bernama Imanuel terpaksa berhenti sampai kelas tiga.

Sampai akhirnya setelah satu tahun putus sekolah, tahun 2016 melanjutkan karena telah dibuka kelas baru.

"Ini kan baru pas tahun 2016 sampai enam kelas. Jadi anak ibu sempat satu tahun putus sekolah. Karena kalau mau lanjut ke Merakai gimana, dia masih kecil, jalannya jauh, kalau mau tinggal di sana tinggal dimana," ujarnya, Sabtu (9/6/2018) siang.

Baca: Misi Mishbahul Anwar Rajut Kembali Kejayaan Pramuka di Sekolahnya, SMAN 3 Pontianak

Marliati menambahkan, bahkan beberapa kali sekolah tersebut juga terputus karena tidak memiliki tenaga pendidik. Kondisi tersebut pun tidak jauh berbeda sampai saat ini.

Sebab, meskipun telah menjadi sekolah negeri, hanya ada tiga guru yang mengajar. Itu pun hanya dua guru yang benar-benar aktif mengajar. Ia pun merasa prihatin kondisi pendidikan di Dusun Kebangak tidak kunjung membaik.

"Lihat dinding sekolah udah bolong. Di situlah mereka belajarnya. Dari dulu ibu nangis sampai sekarang. Masih banyak anak-anak ibu, cucu-cucu ibu gimana nasib mereka nanti kalau sekolah di sini gini terus," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved