Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI Luncurkan Buku di Seminar Nasional Biodiversitas
Dilakukan peluncuran buku berjudul “Upaya Menuju Green Hospital Melalui Program Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Rumah Sakit Kanker Dharmais”....
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Tri Pandito Wibowo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Dalam rangka memeringati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 April, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat, Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam, Fakultas Biologi Universitas Nasional (UNAS) serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNAS menyelenggarakan Seminar Nasional Biodiversitas untuk Kehidupan bertajuk “Kondisi Ekologis, Potensi, dan Pengembangan Biodiversitas Indonesia untuk Keseimbangan Kehidupan di Bumi”, Sabtu, (21/4/2018).
Sebagai salah satu rangkaian acara Seminar Nasional, juga dilakukan peluncuran buku berjudul “Upaya Menuju Green Hospital Melalui Program Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Rumah Sakit Kanker Dharmais”. Buku ini merupakan hasil kerja sama antara Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, BScC Indonesia Prodi Magister Biologi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Nasional, dan Fakultas Biologi Universitas Nasional.
Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya Yayasan KEHATI Fardila Astari menyampaikan bahwa melalui pembinaan yang terus-menerus, Biodiversity Warriors (BW) telah berhasil meningkatkan kualitas anggotanya dalam melaksanakan aktivitas mereka, sehingga muncul kepercayaan dari berbagai pihak bekerja sama mengenalkan keanekaragaman hayati Indonesia. Melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), BW mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengamatan keanekaragaman hayati di lingkungan RSKD. Hasil pengamatan tersebut kemudian dirangkum dan disusun menjadi buku.
Baca: Sambut Hari Bumi, Fakultas Biologi UNAS Gelar Seminar Nasional “Biodiversitas untuk Kehidupan”
“Buku yang disusun oleh BW ini merupakan wujud kepercayaan suatu institusi seperti RSKD terhadap generasi muda. Selain itu, melalui buku yang berisi tentang keanekaragaman jenis jamur, flora, dan satwa liar perkotaan di sekitar RSKD ini menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit pun dapat menjadi habitat bagi satwa perkotaan, sehingga dapat menjadi laboratorium alam untuk mengenali keanekaragaman hayati” tandas Fardila.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional Dr. Tatang Mitra Setia menyampaikan bahwa sebuah konsep ekologi jika diterapkan dalam suatu pengelolaan akan menjadikan interaksi antara sesama makhluk hidup dan makhluk hidup dengan lingkungannya. Penggunaan label green pada suatu pengelolaan bertujuan agar fungsi ekologis dapat berjalan dan terjadi interaksi antar kehidupan dan antar kehidupan dengan lingkungan menjadi seimbang.
“Green Hospital merupakan sebuah konsep rumah sakit yang didesain dengan memberdayakan potensi alam sebagai sumber daya utama sehingga ramah terhadap lingkungan. Selain itu, juga dapat lebih menghemat pengeluaran energi serta menekan pencemaran lingkungan. Oleh sebab itu, keberadaan rumah sakit beserta kawasan sekitarnya dengan hijauan pepohonan berfungsi juga sebagai kawasan ruang terbuka hijau (RTH). Kawasan RTH akan memiliki nilai yang tinggi jika diimbangi juga dengan keberadaan keanekaragaman hayati lainnya, misalnya burung, capung dan kupu-kupu” ujar Tatang yang juga merupakan Deputi bidang IPATEK LPPM UNAS.
Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Prof.dr. Abdul Kadir, PhD, Sp.THT.KL (K), MARS menjelaskan bahwa rumah sakit ramah lingkungan atau yang lebih dikenal dengan istilah Green Hospital sebagai Sustainable Hospital, saat ini sudah menjadi kebutuhan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satu indikator pengelolaan atau kualitas lingkungan di rumah sakit adalah adanya keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut dengan keberagaman dan kekayaan spesies atau keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.