Ekspor-Impor di Aruk Terkendala Belum Miliki Kode Port

Terkait kesiapan pihaknya untuk lintasan ekspor-impor, Nisa menegaskan sebenarnya untuk pelaku usaha yang mau ekspor sudah banyak.

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ TITO RAMADHANI
Kabid Perdagangan Diskumindag Sambas, Nisa Azwarita usai mengikuti rapat persiapan lintasan kendaraan antar negara pada PLBN Aruk, dengan sejumlah instansi terkait di ruang aula utama Kantor Bupati Sambas, Kamis (8/2/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Kabid Perdagangan Diskumindag Sambas, Nisa Azwarita mengungkapkan, dalam rapat lintas instansi tersebut, pihaknya membahas kesiapan terkait lintasan kendaraan antar negara terlebih dahulu.

"Lintas mobil dulu, kalau lintas mobil ini kan tadi sudah disebutkan, sudah diusulkan ke Dinas Perhubungan, sehingga nanti bakalan ada rest area. Rest area ini, kalau bisa bus-bus yang melintas dari Malaysia ke Indonesia, nantikan jalurnya kan Singkawang-Kuching atau Kuching-Singkawang itu singgahnya di Pasar Kartiasa," ungkapnya usai rapat, Kamis (8/2/2018).

Baca: Pemkab Sambas Gelar Rapat Persiapan Pelintasan Kendaraan Antar Negara

Lanjut Nisa, ini dikarenakan di Pasar Kartiasa lahan parkirnya luas, kemudian bisa juga menghidupkan perekonomian para pedagang di kawasan tersebut.

Baca: Nyaris Separuh APBD Kota Pontianak Untuk Pendidikan, Ini Alasan Sutarmidji

"Karena selama ini kan pasar itu sepi. Kita hidupkan kembali lah dengan kalau itu nantinya dijadikan rest area. Kami lihat pasar itu siap untuk dijadikan rest area, tinggal mungkin pembenahan saja untuk parkirnya dan lainnya, tapi untuk lahannya kami rasa cukup luas, toiletnya ada, musala ada. Artinya fasilitas untuk rest area sudah memadai di situ," jelasnya.

Baca: Bangun Mental Pencipta Lapangan Kerja Melalui Praktik Wirausaha

Kemudian terkait kesiapan pihaknya untuk lintasan ekspor-impor, Nisa menegaskan sebenarnya untuk pelaku usaha yang mau ekspor sudah banyak.

Baca: Masalah Pertanahan Tak Kunjung Selesai, Anggota Komisi II DPR RI Desak Jokowi Ganti Menteri ATR/BPN

"Di kita sudah banyak yang mau coba. Cuma terkendalanya adalah di kita belum memiliki kode port atau kode terminal di PLBN Aruk. Dari hasil rapat tadi dikatakan bahwa mereka siap mengusulkan kode port untuk di Aruk, kemudian siap juga untuk membangun terminal barang umum antar negara. Karena untuk ekspor-impor itu harus ada kode portnya atau kode terminalnya dulu, baru kemudian ada terminal barangnya dan setelah itu barulah bisa kegiatan ekspor-impornya. Kemudian yang terkait payung hukum itu tadi, kami juga akan tetap mengusulkan juga tetapi yang penting itu dari Kementerian Perhubungannya dulu," terangnya.

Kalau misalkan dari Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan kode port dan menyediakan terminal barang antar negara, barulah bisa ekspor-impor.

"Selama ini belum ada, tentunya akan sulit. Kalau pun bisa, seperti yang kemarin yang sewaktu pas ekspor ubur-ubur itu kan, itu kan dipaksakan sebenarnya. Itukan memakai fasilitas yang meminjam kode portnya Sintete tapi melewati Aruk," tegasnya.

Sehingga menurut Nisa, alangkah baiknya jika di Aruk memiliki kode port tersendiri, serta tersedia terminal barang antar negara, sehingga otomatis kegiatan ekspor-impor dapat segera berjalan.

"Cuma yang meminjam kode port Sintete itu, hanya menyikapi kebijakan dari Bea Cukai, supaya ekspor bisa cepat. Tapi alangkah baiknya kalau Aruk punya kode port sendiri. Kabupaten Sambas selama ini hanya memiliki kode port di Sintete, di kawasan lainnya sama sekali belum ada, termasuk di PLBN Aruk. Baru ada di Sintete, jadi inilah yang baru akan diusulkan. Makanya tadi saya bilang diusulkan secepatnya oleh Kementerian Perhubungan, supaya secepatnya kita bisa ekspor-impor," paparnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved