Miris! Ini Ternyata Alasan Ibu Rumah Tangga Ini Lakukan Penipuan Mengaku Sebagai Asisten Jaksa

Sambil berurai air mata, Pera mengisahkan ia memang membutuhkan uang untuk menghidupi keenam anaknya...

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ TITO RAMADHANI
Perawati alias Pera (37), warga Pemangkat yang menipu dengan mengaku sebagai asisten Kasi Pidum Kejari Sambas, saat memberikan keterangan kepada Kasi Datun Kejari Sambas, Siti Hadijah S Tarigan di Kejari Sambas, Minggu (4/2/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Pera (37), pelaku penipuan yang mencatut nama asisten Kasi Pidum Kejari Sambas, berurai air mata saat mengisahkan apa yang menjadi latar belakangnya mau melakukan aksi penipuan.

"Saya ibu 6 anak, anak pertama berumur 17 tahun, anak kedua 12 tahun, anak ketiga hampir 10 tahun, anak keempat 4 tahun lebih, anak kelima 2 tahun lebih, anak keenam mau masuk 5 bulan," ungkapnya menangis sembari tertunduk di depan Kasi Datun Kejari Sambas, Siti Hadijah S Tarigan di Kejari Sambas, Minggu (4/2/2018).

Baca: Terungkap! Otak Penipuan Catut Nama Asisten Kasi Pidum Kejari Sambas, Aksinya Bahkan Nekat

Pera mengaku terdorong melakukan penipuan, lantaran desakan kebutuhan ekonomi.

Sambil berurai air mata, Pera mengisahkan ia memang membutuhkan uang untuk menghidupi keenam anaknya.

Ini lantaran, suaminya telah menikah lagi.

Baca: Ibu Rumah Tangga Ditangkap Polisi Catut Asisten Kasi Pidum Kejari Sambas

"Suami saya sudah menikah lagi, tapi masih satu rumah dengan saya. Walau dia masih menafkahi saya dan anak-anak, tapi karena tiga anak saya itu kan masih minum susu botol, jadi saya butuh uang untuk beli susu. Kalau uang dari suami saya untuk kebutuhan kami sehari-hari," ujarnya.

Wanita lulusan SMA ini mengaku, butuh uang benar-benar untuk anak-anaknya. Ia sama sekali tak bermaksud untuk bergaya hidup mewah.

"Saya ndak karena butuh uang untuk gaya hidup, hanya betul-betul untuk anak. Saya paling ndak tahu mau shoping-shoping begitu. Saya pikir kemarin kan bekerja perhari biasa," jelasnya.

Menurut kisahnya, ia hanya melakoni peran seolah-olah sebagai asisten Kasi Pidum Kejari Sambas.

"Saya diajak Gery, saya tahu itu salah. Tapi saya memang butuh uang. Saya diajarkan Gery, dia kan memang orang Pemangkat, tapi saya baru kenal dia. Karena istrinya itu kan temannya keponakan suami saya. Saya mau, karena Gery bilang cuma sekedar ngomong, sudah selesai. Awalnya saya pikir kan memang penipuan, tapi Gery meyakinkan saya kalau saya hanya sekedar ngomong," terangnya.

Seluruh ide, gaya berpakaian sampai hal-hal yang diucapkan bahkan menentukan target korban, menurutnya telah ditentukan oleh Gery.

"Semua peran saya yang mengajarkan Gery. Dia semua yang mengarahkan saya, saya tidak tahu apa-apa. Diajarkan ngomong begini-begini. Menentukan korbannya pun Gery, saya ndak kenal sama korban. Saya juga ndak kenal dengan Ibu Susan, semua diatur Gery, saya cuma melaksanakan. Saya bergaya seperti asisten Jaksa, disuruh Gery. Apa yang Gery suruh, disuruh pakai kemeja, celana kain, sepatu pantofel hitam. Saya ndak sampai pula bentak-bentak korban. Saya ndak sejahat itu," sambungnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved